1

CATATAN PERJALANAN : SEMALAM DI MALAYSIA part 2

Posted by Santosa-is-me on 1:04 PM in

Inilah kisahku semalam di Malaysia
Diri rasa sunyi aduhai nasib apalah daya
Aku hanya seorang pengembara, yang hina...

Kekasih hatiku pun telah pula hilang...
Hilang tak berpesan aduhai sayang apalah daya
Cinta hampa hidupku pun merana, mana dia...

(D'Lloyd - Semalam di Malaysia)


Buat yang belom baca, kisah bagian sebelumnya bisa di baca di sini.




Jadi menjelang pukul 9 waktu setempat (fyi, waktu Malaysia itu lebih cepat satu jam dari waktu Indonesia) bus yang gue naiki tiba di Kuching Sentral, sebuah terminal bus yang wujud dan bentuknya lebih keren dari Mall yang ada di Pontianak. 



Hal pertama yang gue pikirkan begitu turun dari bus adalah gimana caranya gue memberikan kabar ke teman gue yang janjian ketemu pagi itu di Kuala Lumpur. Dua ponsel gue udah mati total. Satu-satunya harapan gue adalah laptop yang tersimpan manis di dalam ransel gue.



Tapi karena efek perjalanan jauh, gue memilih untuk rehat sebentar dulu. Tadinya gue hendak minum kopi di Kafe depan, namun gue urungkan karena gue ingin menikmati ruang tunggunya yang sejuk dan bersih. Gue juga harus mencari informasi gimana caranya gue bisa nyampe ke Airport Kuching dari Kuching Sentral, maklum perjalanan ke Kuching ini memang diluar rencana sehingga gue emang nggak ada cari info seputar perjalanan di Kuching. 



Tapi sialnya, meski Kuching Sentral sekeren itu, namun ternyata disana sama sekali nggak ada sinyal Wifi. Gue udah tanya ke mbak-mbak yang jaganya, dan mereka mengkonfirmasi bahwa nggak ada sinyal wifi disana. Gue bertanya gimana dengan di mallnya (waktu itu mallnya belum buka). Dan si mbak-mbak yang ramah namun jawabannya bikin kesal itu bilang sama aja, nggak ada juga.



Terjebak dengan kebingungan dan nihil informasi, gue nggak tahu harus ngapain. Untungnya jadwal penerbangan gue adalah pukul 1, sehingga gue masih punya banyak waktu. Gue mencoba tenang. Dan emang nggak ada jalan keluar lain. Satu-satunya adalah naik taksi untuk ke bandara.



Dari awal turun dari bus, para penumpang emang udah bakalan diserbu oleh para supir taksi. Gue awalnya nggak mau pake taksi ke bandara, soalnya harganya mencapai 20 ringgit. Harga yang termasuk mahal. Sialnya nggak ada alternatif angkutan lain di Kuching Sentral.



Tapi gue tetap nggak mau rugi. Karena itu gue tetap nggak mau naik taksi yang mangkal di Kuching Sentral. Gue pergi kepinggir jalan, menyetop taksi dan tawar-menawar sekejam mungkin. Hingga akhirnya gue mendapat taksi yang mau mengantar gue ke bandara dengan ongkos hanya 14 ringgit.

Halaman depan Kuching International Airport...


Tadinya sih gue udah bangga aja dengan kemampuan tawar-menawar gue. Setidaknya gue udah menghemat 6 ringgit. Jumlah yang cukup buat sekali makan di gerai fast food. Tapi emang orang Kuching ini lagi kepengen bikin gue kesel kali ya, ternyata perjalanan dari Kuching Sentral menuju Kuching International Airport itu deket banget. Nggak nyampe 5 menit, itupun udah termasuk kena trafick light dan ramainya jalan. Tau gitu gue jalan kaki aja. Hemat 14 ringgit yang sama artinya dengan 2 kali makan di gerai fast food.



Gue ahkhirnya sampai ke Bandara sekitar menjelang setengah 10 pagi. Setelah Checkin tiket pesawat, gue langsung mengabari temen gue di KL soal perubahan rencana pertemuan di sana. Untungnya bandara ada fasilitas wifi gratis, jadi gue bisa terkoneksi dengan internet. 



Karena jadwal penerbangan gue masih lama, sambil menunggu, gue ngider-ngider dulu di dalam airport. Kesimpulan gue, nih airport emang nggak sebesar Soekarno Hatta, namun entah kenapa menurut gue jauh lebih bersih dan terkesan lebih rapi serta modern.   


Gue berusaha mencari tempat untuk nge-charge alat komunikasi. Ada beberapa pilihan gerai waralaba di bandara tersebut. Namun yang menyediakan colokan paling banyak adalah Starbuck. Jadi terpaksa gue memesan double shoot espresso di sana hanya demi untuk ngecharge.



Menjelang pukul 1 waktu Malaysia, pesawat gue menuju Kuala Lumpur berangkat. Tiba di KLIA2 (jadi di KL ada 2 bandara, KLIA1 dan KLIA2) sekitar pukul 3 sore. Gila, ternyata KLIA2 itu guede banget, udah kayak Mall. Gue heran, kenapa di Malaysia Bandara dan Terminal mereka selalu terintergrasi dengan Mall. Buat maksa orang belanja?



Bandara yang kayak Mall (emang mall sih sebenarnya....)

Meeting point gue dan temen gue adalah di KL Sentral. Temen gue nyuruh gue naik KLIA Ekspress yang berharga 35 ringgit. Ini adalah kereta api spesial dari dan menuju bandara. Tapi setelah gue hitung-hitung lagi akhirnya gue memilih naik bus yang cuma 10 ringgit untuk menuju KL Sentral, meski memakan waktu perjalanan setengah jam lebih lama daripada dengan KLIA Ekspress.



Sampe di KL Sentral udah pukul setengah 5 sore. Dan kesan pertama gue liat KL Sentral adalah sumpah rame banget. KL Sentral adalah tempat bertemunya hampir semua moda transportasi di Malaysia. Makanya di sini banyak orang berpindah dari satu angkutan ke angkutan lain. Maka tidak heran tempat itu selalu ramai. Apalagi hari itu masih hari kerja. Dan lagi-lagi, KL Sentral ini juga terintegrasi dengan mall.



Tapi teman yang janjian dengan gue nggak kunjung muncul. Kedua ponsel gue juga udah mati. Ternyata hasil isi ulang di Starbuck nggak cukup. Satu-satunya alat komunikasi yang tersisa adalah laptop di tas gue. Tapi masa iya gue buka laptop di tengah lalu lalang manusia ini. 



Akhirnya gue putuskan buat mampir di MC'D (nama lain gerai waralaba MC Donald, kali aja ada yang nggak tau). Sekalian juga gue belum makan siang. Laper banget. And thanks God, di sana ada wifi. Dan begitu gue cek FB, benar aja, temen gue merubah tempat pertemuan menjadi Bangsar Village. Tempat seperti apakah itu? I have no idea.



Dan mengandalkan info dari teman gue yang bilang naik taksi dari KL Sentral ke sana cuma 5 ringgit, gue coba naik taksi. Tapi apa yang gue dapat, gue ditagih bayaran 15 ringgit. Ternyata yang gue naiki adalah taksi bandara, sementara yang temen gue maksud adalah taksi biasa. Pantes aja gue pake disuruh beli tiket segala. Dalam sehari gue dapat sial dua kali berurusan dengan taksi. 


Dan tibalah gue di Bangsar Village. Just for information, bangsar Village itu semacam plaza gitu. Dan gue nggak tau dimana gue bisa nemuin temen gue itu di sebuah pusat perbelanjaan. Maka terpaksalah gue membuka kembali laptop gue di tengah keramaian orang-orang daripada gue jadi anak hilang dan nangis-nangis ke bagian informasi. And taraaa... ternyata meeting point tempat gue berada adalah sebuah kafe di depan Bangsar Village. Dan akhirnya gue ketemu juga dengan teman gue tersebut. Usai sudah pertualangan gue luntang-lantung sendirian di negeri orang tersebut.




Ketika gue temukan, teman gue baru aja abis makan dengan salah seorang temannya yang asal Malaysia. Temannya teman gue yang asal Malaysia itu adalah salah satu orang penting (gue lupa dia di bagian apa, jadi ditulis orang penting aja) di sebuah perusahaan roti terkenal di Malaysia.



KL malam hari, jalan di depan Bangsar Village...

Setelah teman gue dan temannya temen gue selesai makan, gue dan temen gue diantar dengan mobil oleh temannya teman gue ke Terminal Duta. Awalnya gue dan teman gue mau ke Pudu Sentral, sebuah terminal bus di Kuala Lumpur untuk melanjutkan perjalanan gue ke Thailand. Namun menurut temennya temen gue, posisi gue dan temen gue saat itu (Bangsar Village) dengan terminal Duta jauh lebih dekat. So dengan mobil temannya teman gue, gue dan temen gue diantar ke terminal Duta (sorry kebanyakan kata teman di paragraf ini, emang sengaja!)



Kami udah beli tiket sebelumnya untuk menuju Thailand seharga masing-masing RM60. Cukup mahal memang, tapi sesuai dengan fasilitas bus yang kami dapatkan. Sebuah bus yang nyaman, lapang bakan dilengkapi dengan sinyal wifi sepanjang perjalanan. 



Di terminal Duta kami tiba hampir satu setengah jam sebelum keberangkatan bus. Waktu yang lumayan cukup panjang memang, sehingga gue masih sempat buat makan nasi goreng ayam buatan orang Malaysia dan air sirup buatan orang Malaysia yang dua-duanya sebenarnya sama aja dengan buatan orang Indonesia. Harganya lumayan murah, nggak nyampe RM5, tapi cukup mengenyangkan sambil menunggu bus gue yang baru akan berangkat pukul 10.30 waktu Malaysia.



Tunggu lanjutan cerita gimana serunya gue yang nyebrang ke Thailand di
Sini

1 Comments


Thank for your information, i like this site Please come to my site Thank you very much

Posting Komentar

Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.