0

THE GATSBY AND ME

Posted by Santosa-is-me on 4:01 PM in
Sebenarnya nggak ada persamaan apa-apa antara gue dengan Jay Gatsby

Gue nggak kaya...
Gue nggak suka pesta...
Dan gue nggak punya tetangga bernama Nick Carraway...

Kalo, soal ganteng sih, hmm... si Leo (satu-satunya sosok Jay Gatsby yang gue tau) sih beda-beda tipislah sama gue.

Tapi entah kenapa, sejak menonton film The Great Gatsby gue merasa ada keterikatan khusus antara gue dan Jay Gatsby. Entah kenapa gue merasa sosok Jay Gatsby itu gue banget. Mirip gue banget.

Kalo ngomongin film sih, ceritanya emang bersumber dari materi yang udah kuat banget. Novel The Great Gatsby adalah salah satu novel paling terkenal di dunia. Jangan bandingkan dengan novel "Anak-anak" macam Harry Potter apalagi Twillight.

Ke filmnya, ada Bazz Luhrman yang sepertinya ngasih kita jaminan kalo film ini bakal berisi dengan adegan-adegan pesta glamor nan megah, parade visual nan memikat, serta seting dan kostum yang nggak tanggung-tanggung (ini cuma tukang review kelas kelurahan yang ngasih pendapat, jadi jangan terlalu diambil pusing).
The Great Gatsby, tentang betapa gilanya cinta dan manusia
Balik ke cerita lagi, the Great Gatsby bercerita tentang Nick Carraway yang punya tetangga seorang konglomerat bernama Jay Gatsby dan setiap saban akhir pekan ngadain pesta gede-gedean di rumahnya  yang gedongan. 

And Then, sebuah undangan dari Jay Gatsby untuk Nick akhirnya kemudian perlahan membuka sebuah kenyataan besar (sekaligus menyedihkan menurut gue). Pesta gede-gedean yang terus diadakan oleh si Jay yang sampai terkenal di seluruh kota New York itu sebenarnya hanya untuk menanti kehadiran satu orang: Daisy Buchanan, sepupu Nick Carraway yang (sialnya) sudah menikah.

Daisy ini adalah wanita yang pernah di cintai oleh Jay. Namun mereka harus berpisah karena Jay harus pergi berperang (setingnya itu di tahun 1920-an, tebak deh perang apa itu?) dan Daisy kemudian menikah dengan Tom Buchanan.

Ironis, Jay Gatsby kembali, kemudian melakukan banyak hal absurd demi cintanya. Sengaja memilih tinggal di seberang teluk tepat berseberangan dengan rumah Daisy. Mengadakan pesta besar demi berharap suatu saat Daisy akan datang ke pestanya. Padahal (mungkin) si Jay Gatsby sendiri tidak benar-benar menikmati pesta buatannya itu. Ia (mungkin) lebih senang berdiri sendiri di dermaganya menatap cahaya lampu hijau dari dermaga di depan rumah Daisy, seolah itu sinar harapan yang ingin ia raih. Bahkan ketika Daisy akhirnya menginjakkan kaki di rumahnya, Jay Gatsby baru merasa rumah gedongnya yang megah itu baru benar-benar lengkap. 
Jay dan Pestanya yang absurd.....
See, betapa cinta itu bisa bikin logika hancur lebur. Bagi orang waras, kegilaan Gatsby mengadakan pesta hanya untuk berharap agar orang yang dicintai itu suatu saat akan datang ke pestanya tersebut mungkin adalah sebuah tindakan yang absurdnya diatas maksimal.

Tapi itulah cinta, membuat pikiran jadi kebolak-balik. Bikin otak jadi encer hingga saking encernya udah kayak orang nggak punya otak. Dan sialnya gue ngerasa itulah persamaan gue dengan The Great Gatsby, kita sama-sama absurd gara-gara cinta. Kita melakukan banyak kegilaan karena cinta...

Ya, gue ngerasa betapa gue juga seperti Gatsby, dibodohi oleh cinta. Kita tahu, tapi nggak bisa (atau tepatnya nggak mau) keluar dari kebodohan itu. Mungkin juga seperti Gatsby, orang seperti gue ini terlalu penuh semangat terhadap harapan. Padahal udah banyak yang ditipunya.

Dan gue percaya, orang-orang yang seperti ini banyak. Bukan cuma gue dan Jay Gatsby. Hanya mereka tidak mengakuinya. Atau tidak mau menyadarinya....

Jay Gatsby: Membuat pesta besar agar Daisy suatu saat bisa datang ke rumahnya.... (The Great Gatsby)

Jesse: Rela melewatkan pesawatnya hanya agar bisa ngobrol lebih panjang dengan Celine... (Before Sunset)
Yang ini jadi orang lain demi cinta
Suri: Berubah menjadi orang lain demi mengembalikan keceriaan Taani... (Rab Ne Bana Di Jodi)

Henry Roth: Setia mengingatkan istrinya Lucy, yang setiap hari melupakan dirinya... (50 First Dates)

Carl Fredricksen: Menerbangkan rumahnya untuk mewujudkan mimpi istrinya, Ellie, yang belum sempat terwujud... (Up)

Benjamin Button: Ben yang tetap mencintai Daisy, meski sebagian besar usia hampir selalu berselisih, susah mau menjelaskan yang ini.... (The Curious Cas of Benjamin Button) 
Ini lebih absurd, yang satu menua, dan yang lainnya malah semakin muda.....
Aman: Membuat Naina jatuh cinta pada Rohit, meski ia sendiri juga mencintainya... (Kal Ho Na Ho)

Habibie: Setia menunggui istrinya, Ainun yang sakit bertahun-tahun dengan penuh kesabaran.... (Habibie & Ainun)

Dan masih banyak lagi, dan mungkin kita salah satunya... Yah, terkadang cinta memang tidak mendidik.... tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah adanya....

Tapi kayaknya, gue kebanyakan nonton film deh neh....


0

YANG DAHSYAT DARI BEFORE SUN SET

Posted by Santosa-is-me on 6:47 PM in
Celline : Baby, you are gonna miss that plane.
Jesse : I know
Pernah nggak sih ngerasa ending sebuah film begitu berbekas hingga masih terkenang-kenang bahkan setelah lama menontonnya. Tentu bukan ending film yang seperti Tony Stark yang nggak jadi mati, atau Samsul Bahri berhasil ngebunuh Datuk maringgih, atau Julia Perez ternyata setan.

Dan gue merasakan itu pada ending film Before Sunset.
Film yang isinya cuma ngomong....
Ya, gue lagi-lagi emang telat nonton film ini. Bahkan gue sebenarnya belum nonton film pertamanya Before Sunrise. Tapi gue udah nonton film Before Midnight.

Secara keseluruhan filmnya rada aneh. Beberapa orang mungkin nggak akan suka, karena ceritanya "cuma" jalan-jalan keliling kota paris sambil ngobrol. Nggak ada bunuh-bunuhan. Nggak ada ibu tiri yang kejam. Nggak ada yang selingkuh. Dan lebih penting lagi, nggak ada putri yang tertukar. Apalagi naik haji. Asli, seluruh film isinya cuma si Jesse (tokoh utama pria) dan si Celline (tokoh utama wanita) keliling kota Paris sambil ngobrol. Ya, itu doang.

Tapi gue, entah kenapa suka banget ama film ini. Gue bukan pencinta drama, apalagi drama romantis, tapi untuk Before Sunset, gue suka banget.

Ada beberapa alasan:

1. Gue suka kota Paris.
Alasan ini agak absurd, tapi gue suka keindahan Paris yang jadi latar film. Dan dari dulu gue kepengen banget ke Paris.

2. Chemistry
Gue percaya chemistry pemain itu akan terbawa ke penonton. Dan itu yang gue rasain ketika ngeliat Celline dan Jesse. Mereka cuma ngobrol doang, tapi entah kenapa gue bisa ngerasain gimana besarnya cinta Jesse ke Celline sampai dia ngelambat-lambatin keberangkatannya ke bandara. Sumpah romance banget. Nggak tau kalo orang lain sih.

3. Dialog
90% isi film ini adalah ini. Jadi wajar kalo dialog yang dihadirkan juga keren, penuh emosi, dan bikin terhanyut. Obrolan ngalor-ngidul, nggak jelas ngomongin apa, sesekali diselingi joke dan (maybe) beberapa improvisasi yang pas banget. Beberapa dialog emang berasa agak dipaksain, tapi nggak masalah. Nggak mengurangi kekerenan filmnya.

4. Akting
Udah nggak bisa diomongin deh. Ethan Hawke dan Julie Deply dapet banget meranin pasangan yang saling mencintai ini. Chemistrynya dapat, dan dia seolah nggak lagi akting. Melainkan benaran lagi jatuh cinta.

5. Lagu
Menjelang ending, si Julie Deply (yang meranin jadi Celline) nyanyiin sebuah lagu buat Jesse. Dan lagunya keren banget. Judulnya "A Waltz for a Night." Gue suka banget.




6. Dan yang paling penting: Endingnya
Entah gimana gue suka banget adegan ini. Ketika si Jesse mutarin lagu Nina Simone, dan si Celline menari dengan gayanya yang lucu menirukan Nina Simone entah gimana gue ngerasa si Julie Deply itu seksi banget. Apalagi pas dia menggoda Jesse dengan kalimat di awal post ini. Menurut gue, itu terrific banget. Gue masih nggak bisa ngelupain adegan itu sampe sekarang.

Dan gara-gara film itu gue semakin yakin bahwa kalau cewek mau kelihatan seksi dia nggak harus buka baju, pamer paha atau sebagainya. Bahkan dengan tersenyum aja aura seksi cewek bisa kelihatan dengan jelas.

Yah, gue emang bukan pakar soal cewek, tapi percayalah... memang begitulah adanya... *Sok Tau*


Baby, you are gonna miss that plane...

0

WELCOME FEBRUARY

Posted by Santosa-is-me on 11:02 PM in
Yang namanya Febby, Febri, Febian, Febong, Valent, Valentina atau Valentino sekarang coba angkat tangan....! Siap-siap ya traktir gue....

Yupz, Februari udah datang. Nggak terasa bukan kalo 2014 udah kelewat satu bulan. Januari has gone. Dan dia baru bakal balik setahun lagi. And now.... Februari nyamperin. Kate orang ini bulan yang merah jambu. Bulannya cinta. Yah walau menurut gue sih kalau tahun ini lebih keliatan sebagai musim kabut.
"Malam-malam berkabut" bukan cuma judul lagu
Pontianak emang lagi berkabut belakangan ini. Bawaan cuaca yang nggak turun-turun hujan, ditambah ada yang iseng ngebakarin semak-semak dan lahan perkebunan bikin kualitas udara di kota gue ini jadi jelek.

Boleh dibilang, kabut asap ini memang jadi penyakit tahunan di kota gue. Pokoknya kalau udah nggak hujan lama aja dikit, mulailah asap memenuhi udara. Dan ini bisa bikin orang mengalami gangguan pernafasan. Apalagi buat mereka yang punya gangguan pernafasan. kayak asma atau semacamnya. Dan syukurnya meski gue penderita asma tapi belum begitu parah. Dan kecenderungan kalo pemicu asma gue bukan asap, tapi debu. Entah benar atau nggak.

Nah untuk sementara ini, sih kondisi udara di kota gue belum parah-parah banget. Udah parah sebenarnya, tapi gue pernah merasakan yang lebih parah. Dulu banget, sekolah-sekolah pernah sampe diliburkan gara-gara kabut asap ini. Kalo sekarang masih baru sekedar bagi-bagi masker sama himbauan untuk nggak keluar malam doang.

Cuma itulah, meski udah dihimbau untuk nggak keluar malam, gue bawaannya selalu pengen keluar malem. Entah itu karena memang jadwal siaran gue, atau karena ada acara yang nggak bisa gue lewatkan begitu saja (salah satunya menghadiri resepsi pernikahan temen gue) sampai yang sebenarnya nggak penting kayak beli DVD, nonton film di bioskop, atau ke Gramedia tapi nggak belanja. Dan makin parah gue adalah orang yang paling nggak betah make yang namanya masker.
Masker kek gini sih gue mau...
So, awal februari bakal jadi bulan gue berakrab-akrab ria dengan asap. Sambil berharap hujan cepat turun kembali. Biar nanti bulan bisa merah jambu lagi, nggak jingga gara-gara ketutupan sama asap. (emang bulan bisa merah jambu ya? Kalau jadi muda atau tua sih bisa...)
***
Kemaren baru aja Imlek. Karena gue nggak merayakan imlek, jadi gue nggak beli baju baru, nggak bikin kue, dan nggak nyalain kembang api. Sebenarnya sih nggak ada hubungannya antara beli baju baru, bikin kue, dan nyalain kembang api sama merayakan atau nggak merayakan. Soalnya lebaran Idul Adha kemaren gue nggak beli baju, nggak bikin kue dan nggak nyalain petasan, tapi gue tetep merayakan Idul Adha.

Salah satu hal yang cukup khas di Imlek adalah Kue Keranjang. Sebenarnya sih sama aja dengan dodol, cuma kalo imlek gini kita ikut deh nyebutnya kue keranjang.

Orang rumah gue nggak ada yang suka dodol maupun kue keranjang. Makanya kita jarang beli. Tapi untungnya selalu saja ada yang memberi. Tentu dari temen-temen tiong hoa yang merayakan. Dan mereka selalu menegaskan, bahwa kue keranjangnya halal.

Kayak imlek kemaren misalnya. Gue dikasih kue keranjang sama cici cakep penjaga toko DVD tempat gue biasa beli DVD film. Gue sih terima aja, habis selain cici-nya baik, cakep lagi....

Nggak jera deh buat ngeborong di sana lagi...

enak, yang ngasihnya bahkan lebih enak lagi (dilihat)


0

HUJAN DI MALAM IMLEK

Posted by Santosa-is-me on 2:20 PM in
Gue orang Pontianak. Emang rada aneh sih orang Pontianak kok pake "Gue", tapi sumpah di keseharian gue nggak pernah ngomong pake elo-gue elo-gue. Cuma di blog aja, soalnya pembaca blog inikan kebanyakan orang Jakarta (sok tau).

Jadi waktu gue nulis tulisan ini, ceritanya besok itu udah mau Imlek. Dan di Pontianak, jumlah warga keturunan Tiong Hoa tidak sedikit. Emang nggak sebanyak di Singkawang yang sampe terkenal sebagai kota amoy-nya itu. Tapi kalo sekali aja keliling kota Pontianak, pasti langsung deh ngeh bahwa etnis Tiong Hoa adalah salah satu etnis yang lumayan rame di kota gue ini.
Imlek di Pontianak, Selalu meriah.....
Tapi gue nggak bakal ngebahas soal baju apa yang udah gue beli buat imlek besok. Lebih terutama lagi karena emang gue nggak ikut merayakannya jadi emang nggak beli baju apa-apa. Dan catet, meski besok tanggal merah, gue tetap siaran seperti biasa. Maklum nasib kerja di bidang penyiaran, nggak kenal libur. Catet itu.

Yang kepengen gue bahas itu adalah malam imleknya sendiri. Bukan, gue bukan termasuk yang keberatan dengan pesta kembang api di malam imlek (as you know, menyalakan kembang api memang adalah tradisi dalam budaya tiong hoa loh, jadi emang nggak bisa dipisahkan). Gue juga nggak keberatan sama jalanan yang mendadak serba macet. Keberatan sih sebenarnya, tapi untuk yang ini gue bisa memaklumi. Dan gue juga nggak takut sama Barongsai.

Yang mau gue omongin adalah kepercayaan orang tiong hoa yang berharap malam imlek itu hujan deras turun. Konon katanya itu pertanda bahwa tahun yang baru datang ini akan dipenuhi keberuntungan. Yah, menurut gue kepercayaan ini agak absurd sih, masa iya semua orang beruntung. Terus siapa dong yang tidak beruntung. Gue? Marshanda? Atau Putri Yang Ditukar?

Gue emang bukan orang yang ikut meyakini hal tersebut. Gue juga bukan orang keturunan Tiong Hoa (kalo punya istri keturunan Tiong Hoa sih boleh). Tapi khusus malam ini gue juga ikut berharap hujan turun deras sederas derasnya.
Mungkin masih sodaraan ama Felix Siaw...
Bukan apa-apa, soalnya beberapa hari kemaren ini kota Pontianak lagi kering-keringnya. Nggak ada hujan sama sekali. Aneh kan? Sementara di Jakarta dan tempat lain pada banjir dan hujan melulu, di tempat gue malah udah berasa lama banget nggak hujan-hujan. Persediaan air bersih mulai menipis. Dan emak gue bawaannya ngomel melulu kalau gue agak boros make air.

Semoga ajalah malam ini hujan turun.... Biar besok hidup gue bisa kembali tenang. Karena kalo nggak, maka jam tidur gue bakal kacau, gara-gara Emak gue maksa gue buat nungguin air ledeng yang menurut keyakinan beliau mengalir pas tengah malam.
Hujan... turun dong...
Yah ujung-ujungnya semua balik lagi ke keyakinan masing-masing....

0

WHEN BADAK MET PASTA

Posted by Santosa-is-me on 3:25 PM in
Gue selama ini jarang makan masakan italia.

Selain gue nggak begitu tahu dimana restoran italia yang enak di tempat gue, gue juga nggak menemukan teman yang mau mentraktir. Karena maklum, prinsip hidup gue, makan dibayarkan itu nikmatnya bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Selain itu, masakan italia juga bukan makanan favorit gue. Maklum lidah gue adalah lidah Indonesia asli. Nggak bisa jauh-jauh dari bumbu dan nasi. Makanya kalo makan italia bawaannya gimana gitu... berasa ada yang kurang. Misalnya makan spagheti, bawaannya pengen nambah saus kacang dan sayur aja, biar jadi gado-gado.

Tetap lebih cinta padamu....
Dan temen-temen gue ngajak makan di Papa's Queen... Ini restoran Italia yang letaknya nggak jauh dari radio gue. Gue sebenarnya sering lewat situ dulu, tapi entah kenapa nggak pernah mampir ke sana. Atau jangan-jangan di jaman dulu waktu gue sering lewat sana, itu restoran belum buka.

Untuk tempatnya emang kecil dan sempit, jadi nggak cocok buat makan bareng teman yang rame banget. Yah paling cuma untuk sekitar 10-an orang, dan itupun kayaknya udah bakal sumpek banget. Tapi jujur tempatnya nyaman, dan kesannya si pemilik kafe jadi deket banget dengan pelanggan. Kita bisa ngobrol bebas dengan santai sama si pemiliknya.

Soal makanan gue cukup suka. Sekali lagi gue bilang, gue bukan lidah italia, tapi tadi gue cukup menikmatinya. Apalagi tadi gue sebenarnya belum lapar. Dan gue termasuk orang yang kalo belum lapar kadang nggak begitu nafsu makan, walau kalau udah lapar bisa gila banget makannya.

Sayang menunya belum begitu banyak. Dan tadi gue pesan........ (ah gue lupa namanya). Pokoknya ada macaroni-macaroninya gitu deh... (otak gue emang lemah dalam hal mengingat nama makanan). Sebenarnya pengen pesen Spagheti Bolognese (yang ini gue inget), cuma kemaren sore gue udah makan mi instant, malamnya sehabis maghrib gue makan bakso, dan agak malamnya lagi gue diajak makan mie ayam. Terlalu banyak mie dalam dua hari.

Lupa namanya...
Thanks buat Papa's Queen. Gue masih nunggu Hot Dog-nya. Dan tentu saja menu Risotto (maklum orang Indonesia) dan Lasagna (gara-gara nonton Garfield nih). Mudah-mudahan suatu saat nanti dua menu ini beneran ada di sana.

0

APA KABAR 2014

Posted by Santosa-is-me on 3:53 PM in
Holla my blog.... apa kabar...?

Gila, lumayan lama juga gue nggak mampir di mari. Kalo ibaratkan istri mungkin dia udah minta cerai ke KUA kali (kalo minta cerai ke KUA bukan sih?) karena nggak diberi nafkah lahir batin.

Oke, gue ngaku, gue emang bukan suami yang baik. Gue emang bukan ayah yang bertanggung jawab. Maafkan ayah mu ini nak... Duh kok jadi ngelantur gini. Maksud gue, gue emang bukan blogger yang baik. Gue emang udah nggak bertanggung jawab menelantarkan blog ini tanpa kasih sayang. Dan semoga "Badak ganteng dan Blog terlantar dipelihara oleh negara," segera dimasukkan dalam UUD 45 (makin ngelantur).

Sebagai klarifikasi aja, gue nggak ngeblog sekian lama bukan karena sibuk atau apa. Tapi lebih karena gue, nggak tahu kenapa, dalam beberapa bulan ini mendadak "malas nulis." Liat intensitas post di blog ini, pasca september mendadak kuantitas pos gue menurun tajam.

Padahal gue sekarang dapat fasilitas yang lumayan. Internet gratis yang lancar. Komputer layar gede. Printer kece bukan main. Wajah ganteng tak terkalahkan dan Waktu yang sebenarnya cukup senggang. Tapi nggak ada sebijipun tulisan yang dibuat dalam jangka waktu itu. Mungkin ini kali yang dinamakan sebagai writer block.

Tapi, mungkin ada sebab langsung yang bisa disalahkan buat writerblock gue ini. Yaitu rusaknya laptop lama gue. Di dalamnya ada banyak ide dan tulisan yang udah gue buat dan sampai sekarang belum berhasil gue recovery kembali. Banyak juga bahan tulisan favorit dan artikel yang biasa gue jadikan referensi untuk menulis dan semuanya hilang. Selain bikin gue kehilangan banyak ide, ini juga bikin mood gue menulis sempat hilang.

Tapi belakangan gue mulai rindu lagi dengan tulis menulis. Salah satunya karena di bulan Januari ini banyak temen gue yang mengakhiri masa lajangnya. 

Lha, apa hubungannya? 

Nggak ada sih, cuma gue mau numpang aja di post ini buat ngucapin selamat ke temen-temen gue yang di 2014 udah nggak sendiri lagi.

Oknum Temen 1
Oknum Temen 2
Oknum Mantan (mantan majikan maksudnya) 
Semangat 2014, keep writing, keep blogging, keep weeding. #Eh #ngaco

2

HECTIC MONTH

Posted by Santosa-is-me on 1:35 PM in
Please... jangan tanya gue apa arti kata "hectic." Gue dapat kata ini dari film "Republik Twitter." Gue nggak benar-benar tahu makna sebenarnya, cuma karena kemaren-kemaren orang lagi pada heboh-hebohnya soal Vicky Prasetyo, gue jadi kepengen ngikut deh make kata-kata aneh.

Well, Hectic sendiri kalau diterjemahin bebas dari bahasa Inggris artinya riweh (riweh itu bahasa sunda). Meski gue nggak jago-jago amat bahasa Inggris, tapi maksud dari judul post gue kali ini adalah : bulan yang sangat sibuk. Kalau ternyata salah dan bukan begitu arti sebenarnya, anggap saja begitu. Apalah arti sebuah kata coba? (dasar banyak alasan....!)


Berhati-hatilah dengan Vickinisasi!
Tapi gue sama sekali nggak tertarik mau ngomongin Vicky. Gue justru mau cerita soal kenapa bulan-bulan kemaren gue mendadak jadi sibuk. Jawabannya adalah karena bulan-bulan kemaren lagi ada pilkada di kota gue.

Rame-ramenya pilkada ini juga bermakna bahwa akan ada uang bertebaran. Bukan money politic lho, maksud gue, kegiatan pilkada ini lumayan menggerakkan ekonomi rakyat. Tukang buat spanduk jadi kebanjiran job bikin spanduk. Dampaknya tiap musim kampanye, tukang spanduk dompetnya jadi tebal (baik-baikin temen gue yang punya usaha sablon spanduk ah...). Itu baru spanduk. Tukang kaos sampe tukang jualan es doger sedikit banyak juga adalah salah satu penikmat dari pesta demokrasi ini.


Di radio sih nggak gitu ngaruh ya... meski memasuki masa kampanye, iklan pasangan calon walikota atau bupati nyatanya tetap nggak ada. Atau memang ada kebijakan tersendiri dari radio gue yang nggak nerima iklan kampanye. Atau juga karena para calon-calon pemimpin daerah rada kesel sama gue dan radio gue yang tiap saban hari suka sok tau ngatai-ngatain kinerja mereka...


Karena itulah, jadwal diluar radio yang justru bikin sibuk. Gue nyoba nyambi-nyambi cari proyek tambahan di pilkada kota gue. Proyek apaan? Yah boleh dibilang, ikut ngebantuin jadi timses salah satu pasangan calon. Walaupun cuma dibagian data dan informasi.


Tapi gue juga nggak sembarang dukung calon. Gue dukung calon yang benar-benar terpercaya dan kompetible buat memimpin kota gue. Dan indikasinya jelas, yaitu membayar honor gue tepat waktu....hehehehe


Hasilnya, walau sebenarnya diatas kertas emang diunggulkan, calon dukungan gue itu beneran menang. Berasa nggak sia-sia seharian berkutat dengan data dari TPS-TPS. Serta berasa lega ternyata gue nggak salah pilih calon pemimpin, karena honor gue dibayar tepat waktu hehehe (nggak tau sih, apakah kalo kalah gue bakal dibayar selancar sekarang juga).


Meski timses, gue nggak milih calon yang gue dukung
Terakhir, sedikit berbagi rahasia, meski gue tim sukses salah satu pasang calon, tapi gue sebenarnya gak ikut memilih calon yang gue sukseskan tersebut. Bukan karena gue punya alasan yang berat-berat kaya: politik itu busuk, anti demokrasi atau bla-bla-bla... alasannya sederhana, karena gue sebenarnya bukan penduduk kota tersebut. Makanya gue nggak bisa milih....

Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.