Tampilkan postingan dengan label Ngomongin Film dan Tipi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngomongin Film dan Tipi. Tampilkan semua postingan
4

DUA CERITA DARI DUA FILM TAK TERDUGA

Posted by Santosa-is-me on 5:38 PM in
Ya ampun, apa kabarnya nih blog??? Ditinggal udah sekian lama.

Sorry banget ya, gue kemaren-kemaren agak rada nggak aktif buat ngeblog dulu. Maklum kemaren itu sedang patah hati, jadi butuh waktu buat menenangkan diri dan memperbaiki hati. Gue kalau patah hati emang gitu, parah banget.

Untungnya, masih banyak hal-hal yang bisa gue jadikan pelarian ketika gue sedang patah hati. Traveling, makan, ngumpul bareng teman, kerja lembur dan nonton film. Jujur, patah hati bisa bikin gue bangkrut sebenarnya. Selain kerja lembur, kesemua aktivitas yang gue jadikan pelarian itu butuh biaya yang nggak sedikit. Liat aja misalnya makan, sekali makan gue bisa ngabisin duit cukup banyak. Apalagi kalau lagi patah hati gini, gue makannya suka kalap.

Kalau patah hati terus jadi gendut, doa gue suka jahat...

Udahlah, lupakan patah hati gue yang nggak penting. Kali ini gue justru pengen cerita tentang dua film yang gue ketemuin dalam proses gue memperbaiki hati. Dua film dari dua negara yang menurut gue sering kita underestimate soal film berkualitas. Yang satu film India dan yang satu film Indonesia.

Nah gue mulai dari film India dulu. Semenjak gue udah meninggalkan dunia alay dan hidup lebih sedikit serius, gue nggak terlalu sering lagi ngikutin film-film India. Kalau gue ingat-ingat lagi, film India terakhri yang gue tonton adalah PK yang dimainin sama Aamir Khan. Selain itu, gue nggak benar-benar tahu film India apa saja yang beredar di pasaran. Gue juga udah nggak tahu gimana kabarnya Shahrukh Khan, Salman Khan, Kereena Kapoor atau Aishwarya Ray.


Kalau gue fikir-fikir lagi, asumsi soal film India memang rada jelek. Film India itu, kalau nggak norak, alay, cinta-cintaan yang paling cuma nyanyi dan nari doang. Pikiran seperti ini sebenarnya nggak sepenuhnya benar juga. Kan masih ada lesung pipitnya Preity Zinta. Bayangin dia udah hampir 40 tahun tapi belum nikah-nikah juga. Kejombloan gue mah belum seberapa (ini kok malah jadi ngegosip sih?)

Salah satu film yang gue baru saja tonton berjudul "Lunchbox" atau yang dalam bahasa aslinya berjudul "Dabba." Awalnya gue nggak tahu, Lunchbox ini film tentang apaan. Apakah tentang anak-anak yang dikasih kotak makan sama ibunya terus dia jadi jatuh cinta sama ibunya sendiri (imajinasi yang mengerikan), atau seorang anak yang drop out dari kuliahnya di harvard kemudian berniat membuat sebuah jejaring sosial yang menjual kotak makan plastik dengan harga mahal yang digilai oleh ibu-ibu? (antara sejarah facebook dan tuperware yang tercampur).

Kalau di Indonesiakan, judulnya jadi: "Rantang"

Sebenarnya, film ini tergolong romance. Bercerita tentang dua orang anak manusia tak saling kenal yang terhubung karena kotak makan yang tertukar (mungkin filmnya sendiri terinspirasi dari sinetron Putri yang ditukar, Indonesia harus bangga). Saajan Fernandes (Irfan Khan) seorang karyawan diambang masa pensiun dan diharuskan melatih penggantinya Shaikh (Nawazudin Siddiqui) yang punya karakter bertolak belakang dengan dirinya. Sementara Ila (Nimrat Kaur) seorang istri muda yang merasa kehidupan rumah tangganya tidak berjalan baik. Kotak makan yang diniatkan Ila untuk suaminya, malah nyampe ke Saajan. Dari sanalah surat-menyurat mereka membuat mereka jadi saling jatuh cinta.

Film ini memang berkisah tentang cinta orang dewasa dan masalah orang dewasa. Begitu heartwarming sekaligus bersimpati karena bisa jadi problem di dalam film tersebut memang juga jadi problem kita-kita ini para orang dewasa. Kejenuhan dalam rumah tangga, kesepian, post power syndrom dan segala macam problem kekinian masyarakat urban India dibalut dalam sebuah jalinan asmara yang sederhana. Romantis di satu sisi, manis di sisi lainnya, namun juga penuh dengan kegetiran. Disinilah jajaran kru mulai dari kursi sutradara dan penulis naskah yang dipegang langsung oleh Ritesh Batra hingga cast macam Irfan Khan dan Nimrat Kaur tampil dengan cukup meyakinkan. Membuat gue jadi begitu jatuh cinta sama kisah cintanya.

Jadi pokoknya gue menganggap film ini sungguh luar biasa. Buat yang doyan drama film Lunchbox ini nggak boleh dilewatkan. Meski ending dibuat menggantung dan memaksa kita buat menyimpulkan sendiri (waktu itu gue lagi malas mikir jadi kesal dengan ending model film ini), film ini akan membawa sensai menyenangkan buat mereka yang pengen dapet kisah cinta india yang nggak norak dan tanpa adegan sensual.

Nah tak lama setelahnya, gue juga nonton film lainnya yang menurut gue cukup berhasil melampaui ekspektasi gue. Kali ini filmnya produksi dalam negeri. Weith, sejak kapan film Indonesia ada yang bagus? Nah ini nih, terlalu meremehkan film Indonesia nih, tonton makanya Pasir Berbisik (ya ampun itu film dari jaman kapan?). Nggak deng, film-film Indonesia yang kekinian juga banyak yang bagus kok. Coba deh nonton Mencari Hilal karya Ismail Basbeth (isi filmnya rekaman sidang isbath pas mau lebaran).

Nah film Indonesia yang kemaren gue tonton adalah "3: Alif Lam Mim." Awalnya gue mikir, ini film apaan nih? Operator seluler? Promo internet murah? Atau lowongan kerja? Dari judul aja udah nggak menarik. Ditambah pula sub judul Alif Lam Mim. Ramadhan udah lewat, Lebaran juga, lha kenapa ini ada cerita biografi pembuat buku Iqro. 

Harusnya judulnya Pria berkalung Sorban...

Seperti biasa gue liat dulu lah trailernya. Dan seperti biasanya gue lalu mengambil kesimpulan cerita dari trailernya tersebut. Cuma film yang sok asyik berantem-berantem sendiri, yah ngikut-ngikut suksesnya The Raid lah. Model-model pengikut gini mah biasanya jelek, pikir gue waktu itu. Terus apa lagi? Ceritanya tahun 2030-an. Hmmm menarik juga, kapan sih gue pernah nonton film Indonesia yang cerita tentang masa depan? Seingat gue nggak ada. Terakhir, sutradaranya adalah Anggy Umbara. Dan menurut gue Anggy Umbara punya signature dan track record yang bagus soal film. Jadi yaah, bolehlah akhirnya gue pergi nonton, namun tanpa berharap macam-macam, karena bagi gue, harapan palsu lebih kejam daripada alamat palsu (ditampol Ayu Ting-ting).

Baca juga : All hail Anggy

But what? Ternyata gue dibuat terkejut oleh film ini. Tentu nggak bisa dibandingkan dengan produksi Hollywood yang visual efeknya sungguh gila dan modal yang seolah tak terbatas, namun film ini membuktikan bahwa film Indonesia bisa juga bikin kita nggak ngerasa rugi buat bayar tiket 30-50 ribuan buat nonton di bioskop (bayar 50 ribuan aja udah sombong).

Ceritanya tentang Indonesia 2036, 3 orang sahabat berada di tiga pihak berbeda. Alif (Cornelio Sunny) seorang polisi yang dihadapkan pada aksi terorisme berlatar belakang agama dalam hal ini Islam. Lam (Abimana Aryasatya) seorang wartawan yang berusaha mengungkap kebenaran dari serangkaian aksi teror. Dan Mim (Agus Kuncoro) adalah pentolan di sebuah pondok pesantren yang dituduh sebagai sarang teroris. Perseteruan mereka menciptakan kisah yang membuat ketiganya terjebak dalam konspirasi yang lebih dalam.

Film ini menurut gue terbilang lengkap. Sebagai film action, film ini menghadirkan banyak adegan baku pukul dengan berbagai adegan penuh darah. Dari sisi cerita, film ini tampil cukup menarik dengan pembangunan karakter yang memadai, setidaknya cukup meyakinkan hingga kita tidak perlu melongo oleh adegan-adegan yang terlalu mengangkangi logika. Dari sisi cast-pun tampil sangat pas bahkan pada para pemeran pembantu sekalipun. Gue nggak bilang film sangat bagus, namun sungguh gue jamin film ini nggak mengecewakan.

Setidaknya dua film itu mengajarkan satu hal ke gue. Bahwa pilihan-pilihan tanpa sengaja kita bisa jadi membawa kita pada sesuatu yang baik dan menyenangkan. Seperti menonton kedua film ini, yang ternyata mengantarkan gue pada sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan. Bahkan gue jadi lupa setelahnya bahwa gue baru abis patah hati. Bener kata ibunya Forest Gump, hidup ini seperti sekotak coklat. Kita nggak pernah tau apa yang akan kita dapatkan. So, jangan takut buat nonton film ya, kalau jelekpun yah, anggap saja dapat coklat yang nggak enak.

Well said, dude..
BTW, gue masih punya hutang nyeritain pengalaman perjalaan gue ke Thailand kemaren. Gue udah mulai lupa nih, tapi baka gue usahain buat diceritakan di sini deh ntar...


1

10 THINGS I LOVE ABOUT "HER"

Posted by Santosa-is-me on 11:28 PM in
Posternya nggak menarik amat ya.....
Mungkin bisa jadi Samantha adalah sosok wanita yang diinginkan semua pria di muka bumi, teman ngobrol yang menyenangkan, cerdas, mendukung perkerjaan si pria, senantiasa ada dan begitu mencintai si pria. Sayangnya Samantha tak pernah punya tubuh. Jika tidak, mungkin dia adalah sosok paling sempurna.
Sebenarnya, tema Artificial Intelligence bukan barang baru dalam dunia film. Dari yang besutan Steven Spielberg hingga yang kemaren, Transcendence yang dibilang banyak orang sebagai kegagalan (kembali) Jhonny Deep. Nah kali ini tema yang sama hadir pula dalam "Her." Uniknya, kisah Artificial Intelligence kali ini hadir dalam wujud sebuah hubungan romantis namun aneh. 

Harus gue akui, gue suka banget dengan film satu ini. Beda dengan cinta yang nggak perlu alasan, suka harus punya alasan. So, inilah dia 10 alasan yang buat gue jadi suka dengan film "Her" ini.

1. Berseting masa depan

Film ini berseting masa depan. Dan bagi gue sangat menyenangkan melihat masa depan yang dibentuk film ini, terasa lebih masuk akal dan real. Tidak ada jor-joran tekhnologi masa depan di film ini. Gue bahkan nggak terlalu ingat seperti apa kendaraan masa depan di film ini. Tapi bagaimana melihat orang bisa mengoperasikan tekhnologi dengan suara serta permainan game yang tampak sangat asyik menurut gue cukup menggambarkan bagaimana kerennya masa depan di film ini. Dan plus, juga sukses menampilkan ancaman yang mungkin terjadi seiring semakin majunya tekhnologi: Orang-orang semakin kesepian.
Gamenya interaktif, sampe bisa maki-maki segala....

2. Joaquin Phoenix

Gue nggak begitu kenal siapa Joaquin Phoenix, yang pasti dia sukses menampilkan sosok Theodore, om-om kesepian dengan kumis gede melintang diatas bibirnya. Gue nggak bisa bilang secara penampilan dia jelek, tapi dengan kumis tersebut gue ngeliat dia tampak lebih membumi. Wuih, liat gambar om Joaquin ini tanpa kumis, beda banget. Untung gue cowok, kalau nggak mungkin gue bisa naksir.


3. Banyak latar gedung tinggi

Di film ini, banyak banget adegan yang mengambil ketinggian sebagai latar. Gue sendiri kadang takut sama ketinggian. Tapi gue selalu percaya, memandang luas dari ketinggian adalah sebuah keindahan. Sebuah kebebasan. Karena itu gue suka banget adegan-adegan film ini yang menampilkan pemadangan dari ketinggian. It's so awesome.

menurut gue ini salah satu perkerjaan paling keren di dunia.... 

4. Perkerjaan Theodore

Gue musti bilang apa soal ini. Gue nggak kebayang ada perkerjaan semacam itu di masa depan: Menuliskan surat untuk orang lain. Menurut gue ini salah satu bentuk imajinasi keren si pembuat cerita. Salut.


5. Suara Mbak Scarlet

Scarlett Johansson, siapa yang bisa menolak nama mbak yang satu ini. Bahkan jika itu hanya dalam bentuk suara sekalipun. Suara mbak scarlett menemani hari-hari mu? Gue juga pengen punya Samantha satu.

Ini yang muncul di kepala gue tiap dengar si Samantha ngomong....

6. Pandangan Theodore tentang pernikahan

Gue suka cara pandang tokoh Theodore soal pernikahan. Meski di cerita dia gagal menjalani pernikahan, dia nggak menyalahkan pernikahan itu sendiri. Dia justru menggambarkan pernikahan itu sebagai sesuatu yang begitu indah, ketika dua orang tumbuh dan berubah bersama. Sambil pula di satu sisi menjelaskan bagaimana proses mereka berubah itu terkadang juga bisa jadi menakutkan dan tidak bisa diterima oleh satu dan yang lainnya.

Seorang om-om kesepian tanpa cinta, It's sounds familiar....
7. Nuansa dari film ini dapat banget.

Bagi gue film ini tentang bagaimana orang-orang merasa kesepian ditengah kemajuan tekhnologi. Dan bagi gue film ini sukses menghadirkan nuansa kesepian dari tiap orang yang ada di dalamnya. 

8. Kisah cinta Theodore dan Samantha yang aneh namun manis

Membayangkan seseorang pacaran dengan aplikasi komputer, mungkin cuma dilakukan sama orang freak dan anti sosial parah. Tapi film ini menghadirkan hubungan manusia - komputer yang manis. Bagaimana Samantha bisa mencintai Theodore dengan penuh hasrat dan berusaha untuk menjadi semakin sempurna dalam mencintai. Begitupun sebaliknya. Bahkan sampai adegan making love-nya (silahkan bayangkan gimana ML sama komputer!)

9. Film ini bagus deh pokoknya

Pokoknya film ini bagus, wajar kalo gue suka. Nggak perlu banyak alasan nonton aja sana gih. Filmnya rada mikir, tapi keren sumpah.

10. Gue nonton yang gratisan

Karena ini film tahun 2013, jadi wajar dong kalau gue nggak nonton di bioskop. Dan harus gue akui gue nonton yang versi downloadan alias bajakan. Please, kelakuan gue ini jangan dicontoh. Dan Tuhan, mohon maafkan hamba.


Eh, Chriss Prat yang main Guardian of Galaxy juga main di film ini sebagai Paul teman kerjanya si Theodore. Awalnya karakter Paul ini anoyying banget, tapi ujung-ujungnya sih baik juga ternyata.



0

DIMANA KAU BERADA, TUHAN?

Posted by Santosa-is-me on 6:47 AM in
Udah lama gue nggak nonton film India. Lahir dan besar di keluarga pencinta film dan lagu-lagu India, sedikit banyak mempengaruhi kehidupan gue. Gue jadi suka film India. Dari jaman Shahrukh Khan masih cupu, sampe sekarang dia udah kayak om-om yang nggak sadar umur, nggak terhitung film India yang udah gue tonton. Bahkan jaman gue SMA, nama belakang gue sampe dikasi embel-embel "Khan" sama temen-temen gue.

Itu dulu. Seiring berjalannya waktu, gue mulai menjauh dari film-film India. Terutama sejak TV Indonesia yang diputarnya film India yang itu-itu aja (dan herannya, adek sama emak gue tetap nonton). Di bioskop, jangan terlalu berharap film India masuk. Kecuali film tersebut benar-benar booming kayak Slumdog Millionaire dulu. Belum lagi muncul pula persepsi bahwa film India itu norak, cuma nyanyi doang dan cinta-cintaan.
Film India mah, nyanyi doang....

Maka Bollywood harus berterima kasih pada Aamir Khan. Tentu bukan sama dia aja, tapi juga jajaran sutradara, produser dan kru serta tim kreatif yang mampu menghadirkan karya-karya luar biasa bersama salah satu aktor terbaik di India ini. Tanpa mengesampingkan aktor-aktor hebat India lainnya, bagi gue, Amir khan adalah salah satu aktor yang bakal bikin gue dengan senang hati meluangkan waktu menghabiskan film India yang panjang itu, dan tahu bakal puas pada akhirnya.

Satu hal yang menurut gue menarik dari film-film yang Aamir Khan mainkan, adalah bahwa dia mampu mengangkat tema-tema yang sebenarnya berat namun jadi menghibur, terasa ringan dan menyenangkan. Lewatkan film-film macam Maan, Ghajini atau Dhoom 3,  maka lihatlah 4 film dia yang sempat gue tonton.

Yang pertama judulnya Lagaan. Tema berat yang diangkat di film ini jelas adalah kemerdekaan dan anti penjajahan. Tapi uniknya, jika biasanya perjuangan kemerdekaan itu selalu idientik dengan angkat senjata, pertarungan berdarah-darah dan perang. Tapi Lagaan menghadirkan pertarungan antara penjajah dan si terjajah dalam wujud sebuah pertandingan kriket. Unik bukan?
Jaman Aamir Khan-nya masih muda...

Lalu, film selanjutnya adalah film produksi tahun 2007, Taare Zamen Par. Tema yang diangkat kali ini adalah anak-anak. Secara khusus menghadirkan kisah seorang Ishan Awasti, anak penderita disleksia yang disalah pahami oleh orang-orang terdekatnya. Sesuai judul film yang kalau diartikan jadi Stars on the Earth alias Bintang-bintang di atas bumi, film ini ingin menegaskan pada semua orang tua yang menonton film ini bahwa apapun kondisi seorang anak, mereka adalah bintang.

Beranjak ke dua tahun setelahnya, Amir Khan menambah filmography-nya dengan sebuah judul 3 Idiot. Bagi gue ini film yang nyaris sempurna. Film ini sukses bikin gue terhibur, terharu, jatuh cinta dengan Kareena Kapoor dan tentu saja membenarkan kritik sosial yang ingin disampaikan film ini: betapa rancunya orientasi pendidikan kita hari ini. Film yang menurut gue wajib di tonton oleh mentri pendidikan kita beserta seluruh jajarannya.
Tema pendidikan, namun dihadirkan dengan kocak

Nah, masuk akhir 2014, Amir Khan kembali beredar dengan PK. Maka dengan senang hati, jauh-jauh hari gue udah pasang ancang-ancang buat menontonnya. Gue nggak ada gambaran seperti apa cerita filmnya. Sedikit info yang gue dapet adalah Amir Khan jadi alien. Wuih science fiction nih pikir gue. Dan juga mikir, wah kayaknya kali ini filmnya Amir Khan cuma untuk fun, nggak ada kritik sosial berat yang ingin disampaikan oleh film ini.

But then, ternyata gue salah. Film ini justru membawa sebuah pesan paling berat dan sensitif dari film-filmnya sebelumnya: Agama. Dan hebatnya, Amir Khan dan tentu saja Raj Kumar Hirani sang Sutradara, sanggup terjemahkan tema berat itu dalam sebuah paket 2,5 jam yang sangat menghibur dan menyenangkan.

Seperti juga halnya Indonesia, India juga memiliki kemajemukan agama yang beragam. Kemajemukan ini tak jarang melahirkan gesekan yang sangat keras. Film ini seolah hadir untuk bicara soal itu. Selain itu film ini juga seolah berusaha menggambarkan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang sering kali ditanyakan manusia. Dan menariknya, proses pencarian Tuhan tersebut hadir melalui sosok PK (peekay) alien yang terdampar di bumi.
Psternya komikal, bikin orang pengen nonton
PK kehilangan remote yang menjadi satu-satunya cara baginya untuk kembali ke planetnya. Ia mengalami misspersepsi ketika orang-orang berkata bahwa hanya Tuhanlah yang bisa membantunya. Maka pencarian PK untuk menemukan Tuhanpun dimulai. Dengan segala keluguannya yang tidak mengerti dengan kehidupan di bumi, ia lalu bersentuhan dengan berbagai agama yang justru malah membuat ia semakin kebingungan dengan sosok Tuhan yang sebenarnya.

Gue nggak setuju dengan konsep semua agama sama yang dibawa di film ini. Namun paling nggak bagi gue, film ini memberikan perenungan soal bagaimana agama bisa dengan mudah memunculkan gesekan bahkan hingga permusuhan. Dan juga menunjukkan bagaimana agama juga bisa dengan mudah disalahgunakan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai motif kepentingan pribadi.

Pas nonton ini entah kenapa gue teringat film Martian Child. Gue ingat quote di film itu yang bilang, seorang anak itu ibarat alien yang datang ke bumi. Dia begitu asing dengan kehidupan di bumi. Dan gue yakin sosok PK di film ini sebenarnya adalah metafora dari sosok anak kecil yang sedang mengenal Tuhan. Sedang bertanya-tanya tentang keberadaan Tuhan. Atau jangan-jangan yang punya ide cerita juga sempat nonton film Martian Child, entahlah.
Anak kecil adalah Alien, film John Cusack yang paling gue demen....

Pada akhirnya, gue mau menegaskan sekali lagi bahwa muatan film ini mungkin nggak akan bisa disetujui oleh semua orang. Terutama karena dari awal tema yang diangkat memang sangat sensitif. Jadi lebih baik fikir-fikir dulu sebelum memutuskan menonton film ini. Tapi bagi mereka yang sedang dalam kebingungan akan eksistensi Tuhan, film ini mungkin bisa jadi bahan perenungan. Cuma jangan sampai berhenti di situ aja ya, namun teruslah gali ajaran agama yang kita anut agar kita dapat kebenaran hakiki itu. Kok gue bisa ngomong gitu? Yah, karena yang namanya hidup manusia nggak selalu di atas. Ketika seseorang berada di titik-titik terendah dalam hidupnya, tidak jarang orang tersebut akan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Bertanya di mana Tuhan berada. Begitulah hidup. Dan gue pernah merasakan masa-masa itu. Masa dimana gue bertanya soal di mana Tuhan. Di mana keadilan-Nya. Dan syukurnya gue mendapat jawabannya.

Sebagai sebuah karya, PK adalah 2,5 jam yang menyenangkan bagi gue. Penuh hiburan, keharuan, dan perenungan. Paket lengkap untuk membuat anda tidak kecewa menghabiskan waktu panjang menonton film India yang memang durasinya luar biasa itu. Dan juga, I love Anushka Sharma, dia benar-benar berubah dari film-filmnya yang pernah gue tonton sebelumnya.
Mbak ini tampil beda dengan rambut pixy cut-nya...

3

BEGIN AGAIN : KAN SEMUA ORANG BISA MULAI DARI AWAL

Posted by Santosa-is-me on 11:14 PM in
Ting!!! Sebuah pesan masuk.

Alya melihat HP Cinta. Dari Rangga. Cinta ragu. Dan Alya nanya "Bener nggak ada yang mau elo sampein sama Rangga? Kan semua orang bisa mulai dari awal?"

Postingan kali ini, gue mau nge-review salah satu film yang kini jadi favorit gue: Begin Again. Apa hubungannya dengan AADC? Nggak ada sih. Gue suka aja sama Ladya Cheryl. Tapi sayang dia udah nikah....
Kok kamu nikahnya cepet banget sih mbak?
Oke, tapi kalimat Alya di iklan AADC itu mungkin bisa jadi gambaran film ini, bahwa semua orang bisa mulai dari awal, tergantung dia mau apa nggak.

Alkisah ada Greta, gadis muda nan cantik yang baru patah hati dikhianati pacarnya, seorang rockstar yang lagi naik daun. Lalu ada Dan, seorang produser musik yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya.

Mereka bertemu. Lalu saling jatuh cinta. Namun kemudian ketahuan ternyata Dan adalah manusia srigala yang mencari darah suci. Masalah makin ruwet ketika muncul manusia harimau yang juga jatuh cinta pada Greta. Beruntung Greta diselamatkan Tukang Bubur dan diajak naik Haji....

Elo fikir ini sinetron Indonesia!!!!????
Beratnya jadi cowok jaman sekarang,
ganteng aja nggak cukup, harus jadi srigala juga....
Kali ini gue cerita serius.

Seperti sebuah takdir keduanya dipertemukan di sebuah kafe kecil. Musik dan mimpi menyatukan mereka dalam sebuah proyek album musik independen yang nggak direkam di studio melainkan di tempat-tempat memorable di kota New York. Mulai dari pinggir jalan hingga atap gedung.

Apa yang menarik dari film ini? Gue nggak kenal dengan nama John Carney, sang sutradara. Tapi cerita yang gue dapat, orang satu ini punya portofolio bagus dalam hal bikin film bertema musik. Salah satunya yang berjudul "Once" yang mana sekarang kepengen banget gue tonton. Dan cerita itu bener, gue puas gimana film ini dikerjakan.
Nggak susah buat jatuh cinta sama nih film...
Dari sisi cerita film ini boleh gue bilang klise. Tapi plot yang dibangun, sama sekali nggak bikin yang klise itu jadi membosankan, justru malah menyenangkan. Skenario film ini oke banget, nggak chessy apalagi garing.

Dan semua itu dilengkapi pula dengan jajaran akting yang keren. Siapa yang meragukan jam terbang Mark Rufallo dan Keira Knightley. Mark Rufallo selalu jadi salah satu aktor favorit gue. Dan Keira Knightley? Sejauh ini gue baru nonton aktinya di seri Pirates Caribean dan Atonement, dan entah itu di film populer ataupun drama serius,  dia belum pernah mengecewakan gue. Kredit plus juga buat neng cantik satu ini karena dia nyanyi di film ini. Dan suaranya bagus. Terakhir Adam Levine, sang vokalis Maroon 5. Yang pasti nggak cuma hadir buat bantu promosiin film (lo kira ini Indonesia?)
Nggak kebayangkan rekaman di stasiun sampe dikejar polisi...?
Dan yang pasti bikin gue jatuh cinta sama film ini adalah musiknya. Yes, inilah kekuatan utama film ini bagi gue. Semua lagu di film ini hadir dengan sangat menyenangkan. Apalagi dua bintang di film ini Keira Knightley dan Adam Levine mampu hadirkan cerita yang menarik buat lagu-lagu di film ini, terutama lagu "Lost Star" yang dibawain dalam dua versi berbeda oleh mereka masing-masing dan bikin mood dua lagu itu jadi beda. Dan tentu saja, bagi gue siapa saja yang memasukkan lagu Sinatra dalam filmnya pasti punya taste musik yang oke. Film ini salah satunya.

Sayangnya kemaren gue nggak nonton film ini di bioskop. Ada niat sebenarnya, cuma entah kenapa nih film nggak berhasil naik kasta dari film midnight di bioskop kota gue. Yang pasti gue nyesel, film keren begini telat masuk, cuma ditayangkan midnight, dan bentar aja udah ngilang. Padahal film ini keren banget. Setidaknya jauh lebih keren ketimbang film Miyabi diculik kuntilanak (eh ada nggak sih film yang judulnya itu?)
My favorite scene, sambil nyanyiin lagu "Luck be a Lady"-nya Sinatra,
dan "For Once in My Life"-nya Stevie Wonder.
Demikian review sok tau gue. Lagi-lagi suka nggak suka itu soal selera ya. Tapi kalo menurut gue sih, film bagus itu bener soal selera, tapi film jelek itu mah mutlak. Tapi karya tetaplah karya, mari kita apresiasi terlebih dahulu dengan menontonnya. Dan Begin Again jauh dari kata mengecewakan kalo menurut gue.

Dan juga seperti kata Alya di awal postingan ini, semua orang bisa mulai dari awal lagi. Greta, Dan serta gue, pernah hancur lebur dan kesamaan kita satu, kita memilih mulai dari awal lagi. Berharap awal baru itu bawa kita ke tempat yang lebih baik.
Ayo, jangan berhenti, mulai lagi....

1

FILM: GUARDIANS OF THE GALAXY

Posted by Santosa-is-me on 9:42 AM in
Apa lagi yang musti gue bahas dari film ini? Bahwa ini adalah film Marvel? Dan bahwa seperti biasanya, Marvel selalu berhasil menghadirkan sebuah film superhero yang keren sekaligus menghibur?

Guardians of the Galaxy mungkin memang nggak seterkenal superhero Marvel lainnya macam Kapten Amerika, Iron Man, Spiderman atau bahkan Hulk. Tapi menurut gue, justru di sanalah kekuatan film ini. Dengan tokoh yang tak sepopuler karakter superhero lain, memberikan ruang bagi sutradara untuk mengeksplorasi ceritanya dengan lebih luas. Bayangkan aja misalnya, ketika Peter Parker di The Amazing Spiderman yang diperankan Andrew Garfield dianggap kurang nerd, berapa banyak para penggemarnya yang protes karena tidak sesuai dengan gambaran sosok Peter Parker di komik. Yah begitulah memang jeleknya para pencinta komik superhero di sini, selalu membanding-banding semuanya dengan komik.

Nah untungnya buat Guardians of the Galaxy masih belum banyak yang kenal mereka. Gue sendiri aja baru nyari tau soal mereka saat ada info kalo filmnya ini mau dibuat. Karena itulah, menurut gue, si pembuat film bisa lebih bebas mengembangkan karakter para penjaga galaksi ini tapi tentu saja tanpa menghilangkan pakem-pakem utama seperti yang ada di komiknya.

Formasi film dalam komik, agak beda kesannya ya?
Untuk kali ini, Guardian of the Galaxy terdiri dari Peter Quill aka Star-Lord, seorang pencuri barang-barang berharga, Gomora, putri angkat Thanos, makhluk terkuat di galaksi, Rocket Raccon dan Groot, pasangan absurd pemburu hadiah (seekor racoon bisa bicara dan makhluk tanaman yang cuma bisa ngomong "I am Groot") serta Drax, petarung yang anak dan istrinya dibunuh oleh Ronan, penjahat utama di film ini. 

Mereka bertemu karena si Peter Quill mencuri batu milik Ronan yang bisa bikin sebuah planet hancur hanya dengan sekali sentuh. Dan entah bagaimana, team ini bisa terbentuk dari yang awalnya Gomora kepengen nyuri dari Peter Quill, si Rocket dan Groot yang awalnya kepengen nyulik si Peter Quill, dan Drax yang kepengen ngebunuh Gomora. Bayangkan, dari yang musuhan bisa jadi team. Nah team inilah yang kemudian berperang melawan Ronan untuk menyelamatkan galaxy dari kehancuran. Dalam hal ini menyelamatkan planet Xandar.
Awalnya musuh, kemudian jadi temen, mainstream cerita film....
Secara keseluruhan film ini sangat-sangat menghibur. Banyak adegan-adegan yang akan mampu memancing tawa buat yang menontonnya. Karakter-karakter yang ada juga mampu memberikan nilai tambah untuk film. Bradley Cooper dan Vin Diesel sukses menghidupkan karakter Rocket Raccon dan Groot dengan suara mereka. Tingkah mereka semua yang menurut gue absurd juga akan bikin kita merasa terhibur sepanjang film. Plus juga deretan soundtrack dari musik-musik era 70-80an, yang entah bagaimana bisa bikin film ini makin keren di telinga gue. Filmnya Science Fiction tapi musiknya jadul, menurut gue ini suatu perpaduan yang unik.

Satu yang nggak gue lakukan kemaren pas nonton adalah nungguin post credit scene atau nggak? Soalnya sejak Marvel merilis serinya dengan post credit scene, ini selalu jadi salah satu hal yang ditunggu-tunggu. Cuma sayangnya, kemaren itu gue nonton yang versi 3D, jadinya begitu credit title udah keluar, abang-abang yang ngumpulin kacamata 3D-nya udah nungguin aja. Dan gue bawaannya berasa nggak tenang kalo ditungguin. Jadinya gue cabut deh...

Tapi, nggak nyesal deh nonton filmnya. Gue nggak begitu tahu komiknya, jadi gue nggak bisa membandingkan antara film atau komiknya. Tapi seperti yang gue bilang di atas, nggak terlalu populernya Guardian of the Galaxy dibanding superhero Marvel lainnya, bikin eksplorasi atas karakter bisa lebih luas. Kayak tokoh Yondu yang di film ini kerjanya nguber-nguber Peter Quill, sebenarnya adalah salah satu founding member dari Guardians of Galaxy. Dan gue nggak tau ada yang protes atau nggak dengan ini. Kalo gue sih nggak.

Yondo, kelakuannya konyol, tapi kemampuannya dahsyat...

1

ALL HAIL ANGGY

Posted by Santosa-is-me on 4:05 PM in
Siapa sih Anggy Umbara? Kagak tau?
Tampangnya rada cucok ya bo...
Tapi paling nggak kenal dengan filmnya kemarenkan yang lumayan sukses besar Comic 8? Comic 8 sendiri bagi gue adalah salah satu pencapaian menarik buat film bergenre comedy di Indonesia. Karena film ini sukses mengangkat kelucuan yang mampu bikin gue ketawa di sebagian besar film.

Nggak banyak film comedy Indonesia yang sukses benar-benar mencuri hati gue. Get Merried dari 1 sampe ke entah berapa, nggak satupun yang gue suka. Begitupun produksi-produksi Kawin Kontrak, film-film Raditya Dika, sampe film-film yang dari premisnya aja sebenarnya udah aneh namun nggak mampu bikin orang ketawa nontoninnya. Terakhir film comedy yang gue ingat membekas di kepala gue adalah Punk in Love. Selebihnya, gue nggak ingat ada yang mampu bikin gue ketawa, atau minimal kepengen nontonnya di bioskop.

Yah, yang namanya film komedi sudah jelas adalah film yang mampu bikin orang ketawa, bahkan sampe ngakak. Hanya saja mungkin selera humor seseorang itu beda-beda. Selera humor orang Indonesia dan Amerika jelas beda. Makanya tak jarang film bergenre komedi di paman sam sana, di Indonesia malah bikin bingung, lucunya dimana?

Gue sendiri bukan penikmat komedi slapstik. Gue cenderung orang yang menikmati komedi yang terselip dalam dialog-dialog yang kocak. Makanya dari dulu gue demen banget sama serial Friends (dan gue paling demen sama Chandler Bing). Tapi selera gue nyatanya nggak melulu sama dengan temen gue. Menurut gue film macam Yes Man, Get Smart atau (500) Days of Summer itu lucu sementara temen-temen gue nggak.
Gue suka bukan karena merasa senasib...
Balik ke Anggy Umbara, dia termasuk salah seorang sineas muda yang cukup potensial di ranah perfilman Indonesia. Latar belakangnya sebenarnya musik (dia personil Purgatory, anak metal pasti pada tahu) dan juga sempat menggarap beberapa video clip. Dengan modal seperti itu, lantas bung Anggy terjun bebas ke dunia film Indonesia yang gue sendiri bingung nyebutnya gimana, menggeliat tapi juga sekarat.

Jam terbangnya belum banyak. Dia baru menelurkan (emangnya ayam?) praktis baru tiga film. Tiga film itu, Mama Cake, Coboy Jr: The Movia dan Comic 8. Gue baru kesampaian nonton dua diantaranya. Namun itu cukup buat gue mengambil kesimpulan bahwa om Anggy ini punya potensi besar di film Indonesia. Salah satu yang gue suka adalah daya eksploratifnya baik dari sisi cerita maupun sinematografinya. Beberapa kayaknya agak berlebihan dan nggak sempurna, namun setidaknya lumayan membuktikan bahwa penonton Indonesia nggak anti terhadap terobosan baru.

so, All hail Anggy Umbara. Semoga jadi salah satu angin segar buat industri perfilm-an tanah air. Cari duit sih boleh, tapi ya jangan gitu amat ya, sampe-sampe idealisme digadaikan. Maklum bisnis film ini bisnis yang kejam. Jangan gitu ya, jangan....

Btw, gue udah nonton Mama Cake dan Comic 8. And menurut gue kedua filmnya nggak jelek. Boleh dicari deh buat yang belom nonton. Dan kata temen-temen gue film Coboy Jr : The Movie juga lumayan. Yah, tapi Coboy Jr sih ya, mau gimana lagi....

Steven Spielberg juga nggak akan bisa apa-apa kalo ini mah....

0

YANG DAHSYAT DARI BEFORE SUN SET

Posted by Santosa-is-me on 6:47 PM in
Celline : Baby, you are gonna miss that plane.
Jesse : I know
Pernah nggak sih ngerasa ending sebuah film begitu berbekas hingga masih terkenang-kenang bahkan setelah lama menontonnya. Tentu bukan ending film yang seperti Tony Stark yang nggak jadi mati, atau Samsul Bahri berhasil ngebunuh Datuk maringgih, atau Julia Perez ternyata setan.

Dan gue merasakan itu pada ending film Before Sunset.
Film yang isinya cuma ngomong....
Ya, gue lagi-lagi emang telat nonton film ini. Bahkan gue sebenarnya belum nonton film pertamanya Before Sunrise. Tapi gue udah nonton film Before Midnight.

Secara keseluruhan filmnya rada aneh. Beberapa orang mungkin nggak akan suka, karena ceritanya "cuma" jalan-jalan keliling kota paris sambil ngobrol. Nggak ada bunuh-bunuhan. Nggak ada ibu tiri yang kejam. Nggak ada yang selingkuh. Dan lebih penting lagi, nggak ada putri yang tertukar. Apalagi naik haji. Asli, seluruh film isinya cuma si Jesse (tokoh utama pria) dan si Celline (tokoh utama wanita) keliling kota Paris sambil ngobrol. Ya, itu doang.

Tapi gue, entah kenapa suka banget ama film ini. Gue bukan pencinta drama, apalagi drama romantis, tapi untuk Before Sunset, gue suka banget.

Ada beberapa alasan:

1. Gue suka kota Paris.
Alasan ini agak absurd, tapi gue suka keindahan Paris yang jadi latar film. Dan dari dulu gue kepengen banget ke Paris.

2. Chemistry
Gue percaya chemistry pemain itu akan terbawa ke penonton. Dan itu yang gue rasain ketika ngeliat Celline dan Jesse. Mereka cuma ngobrol doang, tapi entah kenapa gue bisa ngerasain gimana besarnya cinta Jesse ke Celline sampai dia ngelambat-lambatin keberangkatannya ke bandara. Sumpah romance banget. Nggak tau kalo orang lain sih.

3. Dialog
90% isi film ini adalah ini. Jadi wajar kalo dialog yang dihadirkan juga keren, penuh emosi, dan bikin terhanyut. Obrolan ngalor-ngidul, nggak jelas ngomongin apa, sesekali diselingi joke dan (maybe) beberapa improvisasi yang pas banget. Beberapa dialog emang berasa agak dipaksain, tapi nggak masalah. Nggak mengurangi kekerenan filmnya.

4. Akting
Udah nggak bisa diomongin deh. Ethan Hawke dan Julie Deply dapet banget meranin pasangan yang saling mencintai ini. Chemistrynya dapat, dan dia seolah nggak lagi akting. Melainkan benaran lagi jatuh cinta.

5. Lagu
Menjelang ending, si Julie Deply (yang meranin jadi Celline) nyanyiin sebuah lagu buat Jesse. Dan lagunya keren banget. Judulnya "A Waltz for a Night." Gue suka banget.




6. Dan yang paling penting: Endingnya
Entah gimana gue suka banget adegan ini. Ketika si Jesse mutarin lagu Nina Simone, dan si Celline menari dengan gayanya yang lucu menirukan Nina Simone entah gimana gue ngerasa si Julie Deply itu seksi banget. Apalagi pas dia menggoda Jesse dengan kalimat di awal post ini. Menurut gue, itu terrific banget. Gue masih nggak bisa ngelupain adegan itu sampe sekarang.

Dan gara-gara film itu gue semakin yakin bahwa kalau cewek mau kelihatan seksi dia nggak harus buka baju, pamer paha atau sebagainya. Bahkan dengan tersenyum aja aura seksi cewek bisa kelihatan dengan jelas.

Yah, gue emang bukan pakar soal cewek, tapi percayalah... memang begitulah adanya... *Sok Tau*


Baby, you are gonna miss that plane...

2

FILM SEREM

Posted by Santosa-is-me on 2:27 PM in
Gue emang dari dulu emang nggak begitu suka dengan film horor. Apalagi horor yang cuma modal kutukan apalagi hantu-hantuan. Gue jauh lebih suka horor yang rada trailler gitu kayak ceritanya si Jason, ada orang nggak jelas, pake topeng dan pengen ngebunuhin orang-orang tanpa alasan jelas. Soalnya dari dulu gue selalu beranggapan, hantu itu nggak bisa ngebunuh manusia. Bagi gue Debt Collector itu lebih nyeremin dari Kuntilanak. 
Debt Collector lebih nyeremin...
Karena itulah gue jarang banget nonton film-film horor. Apalagi film-film horor buatan Indonesia. Entah itu yang setannya level biasa macam pocong atau suster ngesot, atau yang rada canggih kayak setan kesurupan (ini setan kelewatan, sesama setan juga diganggu) atau suster keramas datang bulan (ini setan?) 

Pengetahuan gue soal film horor juga nggak banyak. Gue nggak punya pengalaman nonton horor yang cukup panjang. Film horor terakhir yang gue tonton berjudul Twillight. Serem banget. Ceritanya tentang kehdupan seorang (apa seekor?) Vampir sama seorang cewek manusia. Pokoknya serem deh... Gue sampe nggak tega nyeritainnya. 
Serem banget, hati-hati trauma...
Nah, kemaren film the Conjuring lagi diputer. Entah kenapa orang-orang pada heboh. Di facebook orang-orang bilang filmnya seru. Ada yang agak lebay sampe bilang malemnya sehabis nonton dia nggak bisa tidur. Gue yakin dia nggak tidur bukan kerena filmnya serem, tapi karena siangnya nonton film dia belum nyelesaiin tugas kantornya, jadi harus begadang buat ngerjainnya pas malem. 

Di jagad twitter pun, film ini sempat jadi trending topik di Indonesia sampe berhari-hari. Temen-temen gue pun jadi pada kepengen nonton gara-gara ini. Ada temen gue yang bilang, "Dak, nonton The Conjuring yuk, kayaknya bagus tuh jadi trending topik di twitter." Gue cuma diem. Temen-temen gue emang korban iklan. 

Sampai sekarang gue masih juga belum nonton the Conjuring. Selain gue masih belum sreg dengan harga tiket bioskop yang lagi naek, juga karena beberapa temen gue yang udah nonton kayaknya nggak ngasih komen seheboh yang gue baca di twitter atau di facebook. Biasa-biasa aja (mungkin temen-temen gue ini penggemar setia horor lokal)
Mau nonton apa mau perang...?
Mungkin the Conjuring perlu resep produser Indonesia buat bikin film horor: ngajak Terra Patrick, Rin Sakuragi, Sora Aoi atau Maria Ozawa. Itu pasti bakalan serem banget. Serem banget....

Cuma biasanya kalo film horor luar seremnya bikin orang takut buat pergi ke toilet, kalo film horor lokal mah seremnya bikin orang pengen pergi ke toilet...

4

BUKAN CUMA UNTUK BOCAH

Posted by Santosa-is-me on 4:04 PM in
Dari dulu, orang suka nganggep film animasi itu untuk tontonan para bocah. Padahal kenyataannya nggak gitu-gitu juga. Soalnya film-film hentai juga film animasi kan, tapi taruhan deh siapa yang berani bilang itu untuk anak-anak?

Satu hal yang paling menarik dari film animasi adalah filmnya lucu. Kocak. Tapi kadang ceritanya menarik banget. Misalnya gue dulu pernah nonton Wall-E. Dan menurut gue, itu film keren banget. Pesan lingkungannya dapet. Romace-nya dapet (walau cuma robot sama robot). Kocaknya juga dapet. Terus gue juga udah nonton film Up. Ini film keren juga. Romance-nya Carl dan Ellie dapet banget. Kocaknya Russel juga bikin ngakak abis. Dan semangat petualangannya kerasa.
Russel, pramuka optimis yang kocak...
Untuk kemaren, gue baru aja nonton film Despicable Me yang pertama. Hehehe beneran telat banget ya. Gue juga baru tau soal film ini waktu kemaren udah nongol film Despicable Me 2. Review beberapa kawan bilang film ini salah satu animasi yang lumayan keren. Terus gue liat di imdb (situs film) ratingnya juga lumayan. Ya udah gue yakinin diri untuk nonton deh...

Ceritanya sebenarnya sederhana. Juga kayaknya udah sering kali dibuat cerita sejenis. Seorang penjahat, namanya Gru, kepengen ngelakuin sebuah aksi kejahatan besar: mencuri bulan.
Gru kepengen mencuri bulan...
Lalu karena kebutuhan strategi "mencuri bulan"-nya, Gru harus kedatangan tiga bocah yatim piatu, Edith, Margo dan Agnes. 3 bocah imut nan menggemaskan ini diangkat menjadi anak oleh Gru dan kemudian merubah hidupnya. Bikin hidup Gru jadi berwarna.

Daya tarik utama film ini, bagi gue jelas trio Edith, Margo dan Agnes. Terutama Agnes, ngegemesin banget. Mukanya yang imut dan ekspresinya yang lucu mau nggak mau bikin gue jatuh cinta ama karakter ini.
They are verry cute...
Trus, Gru suaranya di isi sama Steve Carell. Gue udah suka Steve Carell dari dulu. Filmnya Get Smart itu kocak abis. Evan Almighty juga nggak jelek-jelek amat. Gue suka banget tampang nggak ada ekspresinya. Dan suaranya sebagai Gru juga gue rasa cocok-cocok aja.

Terakhir, temen-temen gue juga banyak yang suka sama para minion-minion anak buahnya Gru. Emang sih kocak banget mereka ini. Tingkahnya jahil, dan ngomongnya nggak jelas, tapi kadang-kadang suka terikut kejahilan Edith, Margo dan Agnes.
Nggak tau ini makhluk jenis apa...
Despicable Me udah jadi salah satu film animasi favorit gue. Dan gue percaya nggak ada salahnya orang gede nonton film kartun. Kalopun tetep ada yang bersikukuh bahwa film kartun itu untuk anak-anak, camkan aja pepatah satu ini, "Inside every man there's a little boy."

Nih gue kasih trailler filmnya, siapa tau tertarik juga nontonnya...


0

SUPERHERO JADI-JADIAN

Posted by Santosa-is-me on 12:12 PM in
Banyak yang kepengen jadi superhero. Tapi nggak ada yang benar-benar mau mencoba jadi superhero. Kecuali.... 

Dari situlah cerita Kick-Ass ini bermula. Ada bocah dableg yang mikir kenapa nggak, kita nyoba jadi pahlawan super. Meski tanpa kekuatan super. Tanpa kemampuan bela diri kayak Jackie Chan. Nggak sekaya Bruce Wayne. Bahkan nggak seganteng Agung Hercules (hati-hati! Nggak bilang dia ganteng, barbel melayang). Dikepalanya, yang dibutuhkan buat jadi superhero hanyalah kostum. 
Dableg bin Sableng...
Dan bisa dibayangkan kan, apa yang terjadi selanjutnya? Si bocah dableg yang ketika berubah ini jadi make pakean super ketat warna ijo ini, ditusuk penjahat pada aksi superhero pertamanya. Plus ditabrak mobil dan bikin dia harus nginep di rumah sakit. 

Tapi emang dasar dablegnye nggak ketulungan, bukannya kapok dia malah tetap nekat jadi pahlawan super lagi. Dan serunya lagi, nggak disangka dia malah jadi terkenal dan ngetop diseantero kotanya. 

Tapi kemudian dia bertemu dengan dua superhero beneran, Hit-Girl (ini cewek masih bocah, tapi jago banget berantem) sama bapaknya Big Daddy yang punya misi buat balas dendam dengan seorang bos penjahat di kotanya. Bukan cuma itu, kemudian muncul pula Red Mist, pahlawan super lainnya yang sama dablegnya dengan Kick-Ass, namun punya misi terselubung buat menjebak Hit-Girl dan Big Daddy. 
Hit-Girl dan Big Daddy, jago beneran
Red Mist, sama dablegnya, tapi mobilnya kueren
Gue sebenarnya ngerasa agak telat nonton film ini. Soalnya udah dari sejak lama sebenarnya gue tertarik dengan film ini. Apalagi kalo diliat di rating IMDB (situs film) film ini dapet nilai yang lumayan. Selain itu gue juga udah ngefans dengan Chloe Grace Moretz sejak nonton dia di Diary of Wimpy Kid dan 500 days of Summer. Cuma entah kenapa gue selalu ragu buat nonton filmnya. Baru kemarenlah gue baru kesampean nontonnya. Itupun setelah liat iklan di tv kalo Kick-Ass 2 bakal rilis tahun ini. Gila, yang pertama aja gue belum nonton, lha sekarang yang kedua udah mau keluar. Demi harga diri gue sebagai anak gaul dua dunia, gue paksa-paksain harus nonton filmnya. Dan jadilah gue nonton filmnya kemaren. 

Secara keseluruhan filmnya lumayan keren. Yang paling keren tentu si Chloe Grece Moretz. Kayaknya di sini dia lebih kecil lagi daripada di dua filmnya yang udah gue tonton. Tapi tetep, i love her (tapi gue bukan pedofil lho ya, cuma dek Chloe ini dari bocah emang udah cakep sih). Tapi bukan cuma Chloe yang keren, Aaron Taylor-Johnson yang jadi Kick-Ass juga lumayan keren. Dan gue bahkan ikutan jatuh cinta sama Lyndsy Fonseca yang jadi cewek taksirannya si Kick-Ass (soalnya seksi banget). 
Sekarang mbak Chloe udah gede...
Eits... tapi hati-hati juga ya. Meski dasar cerita kocak dan rada sableng serta dimainkan juga sama Chloe Grace Moretz yang masih bocah, bukan berarti ini film keluarga lho. Jangan juga mikir karena temanya super hero filmnya jadi cocok buat anak-anak. Nggak! Ini murni film buat orang dewasa. Soalnya boleh dibilang filmnya agak semi slasher. Adegan-adegan tusukan atau tembakan tampil vulgar banget. Jadi jangan heran kalo nonton filmnya ntar ada nemuin tangan atau kaki yang kepotong, atau banjir darah dimana-mana. 

Belum lagi adegan "panasnya". Kalo kata temen gue yang pemerhati film, menentukan pantas atau nggaknya film itu buat anak cukup dengan ngelihat ada adegan kissing atau nggak? Dan film Kick-Ass ini udah nggak sekedar kissing lagi, jadi baiknya jangan nontonnya di bulan puasa deh...
Mereka bahkan lebih sadis dari the Avenger...

7

APA KABAR MAISSY...?

Posted by Santosa-is-me on 9:04 AM in
Kalo inget cerita gue tempo hari soal era tahun 90-an (yang belom baca, liat di mari), gue sempat cerita kalo salah satu hal ikonik dari jaman 90-an akhir itu selain krismon, lupus, dan ksatria baja hitam adalah Maissy. Mbak Maissy Pramaishella. 
Salah satu ikon 90-an akhir
Nah, kemarin gue berkesempatan mampir ke laman salah seorang kompasianer (betul nggak sih disebutnya gini?) yang sempat ketemu langsung dan ngobrol-ngobrol sama Maissy (terbang ke mari kalo mau baca). Ternyata si Mbak Maissy ini udah jadi dokter lho... 

Kalo dari jaman gue masih kecil dulu, ada banyak artis-artis cilik yang sempet tenggelam ketika dia beranjak dewasa (jangan dibantuin kalo nggak bisa berenang juga). Ada juga yang berhasil sukses kembali. Ada yang terpaksa pindah jalur (dulu nyanyi, sekarang main sinetron, atau dulu lumba-lumba sekarang maen bass). Dan ada juga yang ganti kelamin. 
Mereka bukan yang dulu lagi...
Tapi si Maissy ini agak beda. Dia menghilang tanpa jejak dari dunia hiburan tanah air. Lenyap begitu saja, seperti ditelan bumi. Nggak ada ceritanya mbak Maissy ini nyoba-nyoba bikin album lagi dan kemudian nggak laku. Atau nyobain ikutan maen sinetron "Mertua yang ditukar," biar bisa eksis lagi (seingat gue di terakhir main sinetron tahun 2002-an gitu, dan setelahnya lenyap bahkan dari jagat infotainment). Yang ada, hanya selentingan kabar yang ngatain kalau dia sedang serius kuliah kedokteran. Sesuai dengan cita-cita masa kecilnya. 

Dan ternyata, mbak Maissy sekarang udah jadi dokter. Dia bahkan juga jadi relawan di LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma) punya Dompet Dhuafa. Sebuah program sosial buat ngasih layanan kesehatan buat orang nggak mampu (kalo mau cari tahu seputar LKC dompet dhuafa, sila cek di sini). Mulia banget kan? 
Cita-citanya pengen punya rumah sakit buat kaum dhuafa...
Hebatnya lagi, si Mbak Maissy ini bukannya nggak bisa eksis lagi kayak dulu. Banyak yang nawarin doi buat ikut terjun ke dunia entertain lagi. Tapi kayaknya, mbak Maissy masih belum mau. Dia maunya jadi dokter. Dan ngabantu orang-orang susah. Sama kayak gue. Kita cocok kayaknya. 

Ehm... masih ada satu hal lagi yang gue salut dari mbak Maissy ini. Sekarang, dia juga udah pake jilbab. Jadi makin cantik kelihatannya
Tinggal dicariin calon suami aja...


Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.