Tampilkan postingan dengan label Hasil Mikir Bener. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasil Mikir Bener. Tampilkan semua postingan
0

SADNESS AND HAPPINESS

Posted by Santosa-is-me on 11:03 PM in
Apa yang kita pikir soal kesedihan dan kebahagiaan? Yang pasti, yang pertama selalu kepengen kita hindari dan yang kedua selalu kepengen kita dapatkan. Tapi gue selalu percaya yang pertama dan yang kedua ini selalu datang silih berganti.

Kebahagiaan dan kesedihan, datang lalu pergi....
Sekedar kabar sedih, banyak yang meninggal kemaren-kemaren. Bibi gue, Olga Syahputra, Mpok Nori, dan Farhat Abbas. Yang terakhir belum meninggal sebenarnya, cuma banyak yang ngedoain, entah kenapa. Tapi selalu saja, yang namanya kematian pasti akan menghadirkan kesedihan. Gue tau banget soal itu. Gue sendiri pernah ngerasa gimana kehilangan salah seorang terpenting dalam hidup gue. Dan ketika itu gue ngerasain gimana rasanya kesedihan. Kesedihan yang boleh dibilang sampai bikin gue jatuh ke bawah.

Gue sadar banget, gimana kesedihan itu mampu menjadi penghancur yang sangat-sangat menakutkan. 

Di lain sisi, ada yang namanya kebahagiaan. Uniknya, kebahagiaan ini sebenarnya sederhana. Gue sendiri ngerasa, kebahagiaan itu tidak perlu hal-hal yang sangat besar. Dia berwujud hal-hal yang simple dan sangat-sangat sederhana sekali. Ngumpul sambil tertawa bareng teman-teman, nemuin anak orang yang nggak rewel dan enak diajak main, makan cireng yang enak, bahkan sekedar dapat kabar bahwa teman memutuskan berjilbab.


Bahkan makan sepotong cirengpun bisa mendatangkan kebahagiaan...
Kebahagian adalah candu yang mampu mengantar ke puncak sensasi dalam pencapaian kehidupan. Kebahagiaan adalah pencapaian tertinggi kehidupan, hanya setingkat dibawah masuk surga. 

Tapi nggak ada yang namanya kebahagiaan abadi dan nggak ada yang namanya kesedihan abadi. Seperti musim, dia datang kemudian pergi, untuk kemudian datang lagi lalu pergi lagi. Nggak ada kebahagiaan dan kesedihan yang menetap. Jadi menurut gue, kalau kita berani hidup maka kita juga harus berani berdamai dengan kesedihan, dan ikhlas ketika kebahagiaan harus pergi juga.

Karena itulah tiap detik dalam hidup harus terasa berharga. Mau itu berwujud kesedihan ataupun kebahagiaan, ia akan memberi hasil, mungkin tidak selalu berwujud kesyukuran, tapi terkadang menjadi pembelajaran. Dan dua-duanya penting dalam hidup.

Maka pada akhirnya yang terpenting adalah kesabaran. Ketika berhadapan dengan rasa sedih, maka bersabarlah karena kesedihan itu akan pergi pada akhirnya. Akan ada hadiah Tuhan yang bakal hadir dalam wujud kebahagian. Begitupun ketika kebahagiaan itu sedang dinikmati, tanamkan kesabaran karena ingatlah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan-Mu begitu saja. Dia akan mengujimu sedemikian rupa. Bukan untuk membuatmu susah atau sedih, tapi Dia hanya sedang menyiapkan dirimu agar pantas mendapat sesuatu yang lebih tinggi dari kebahagiaan. Dan juga lebih abadi.

Sesuatu itu namanya Surga.


Udah sabar aja.....

2

MIMPI ITU DIWUJUDKAN, BUKAN DITINGGALKAN!

Posted by Santosa-is-me on 10:36 AM in
Gue masih menganggap percaya pada hal-hal konyol kayak mimpi dan cinta sejati itu adalah suatu kebodohan. Karena itu gue selalu bertanya kepada diri gue, kapan yah kira-kira gue ini bakalan jadi pinter?

Dari dulu gue punya banyak mimpi soal masa depan. Salah duanya yang sudah tertanam sejak lama adalah dua, menjadi penulis dan pengusaha. Dua hal yang semuanya bermula dari kegemaran gue baca, terus berlanjut kemenulis serta keinginan gue jadi orang kaya raya.

Tapi realita ternyata nggak semudah kayak bunga tidur. Gue nyatanya bukan anak orang kaya yang diwarisin perusahaan besar oleh orang tuanya. Gue juga bukan orang yang dianugrahi modal segepok duit yang bisa bikin apa saja dengan itu. Gue cuma ordinary people, very common people (asli gue sok-sok-an aja pake bahasa Inggris ini, entah benar atau nggak).

Itulah yang kadang bikin nyesak. Realita terkadang nggak sebagus mimpi. Gue jadi ingat gimana kisah Ikal di Sang Pemimpi. Dia punya mimpi, tapi realitanya berbanding terbalik dari mimpinya. Dia ingin kuliah di luar negeri, tapi dia cuma seorang bocah miskin di sudut pulau Belitong. Mimpinya kejauhan.

Baca juga : Seberapa Jauh Kita Terpisah?


Apa hikmah yang bisa diambil dari film Sang Pemimpi?
Kalo gue cuma satu, Zakia Nurmala itu cakep....
Gue selalu percaya bahwa kedewasaan-lah yang membuat orang menjauh dari mimpinya. Ketika seorang beranjak dewasa perlahan dia mulai berdamai dengan realita kemudian melupakan mimpi-mimpi. Ketika perlahan kita menua, kita menganggap mimpi adalah mimpi, dan pada saatnya kita harus bangun menerima realita.

Apakah benar harus begitu?

Entahlah. Blog ini memang penuh dengan pertanyaan gue yang nggak terjawab, termasuk pertanyaan barusan ini. Tapi ketimbang memberikan jawaban, yang lebih penting adalah memutuskan pilihan. Mau kemana? Tetap bodoh atau memutuskan menerima realita, menghadapi kenyataan hidup.

Tapi gue sekarang memutuskan untuk tetap menjadi bodoh. Gue akan tetap dengan mimpi-mimpi gue. Salah satu mimpi gue sebagai pengusaha adalah menjadi raja media. Gue nggak pernah kepikiran gimana cara mewujudkannya. Gue bukan anak Surya Paloh. Gue juga bukan anak Aburizal Bakrie. Tapi gue anak emak bapak gue, dan gue bangga dengan itu.

Gue pengen punya kantor berita sendiri, punya TV, Radio, koran, majalah, surat kabar, penerbitan hingga toko buku. Tapi gue benar-benar nggak tahu gimana mewujudkan mimpi-mimpi itu. So, gue memutuskan untuk lebih keras belajar, sambal memulai dengan langkah kecil. Gagal? Mumpung gue masih muda, belum banyak tanggungan, gue rasa gue nggak akan terlalu takut dengan kegagalan.

Baca juga : Merekam mimpi-mimpi

Suatu saat gue bakal beli CNN...
Terakhir ingat kata-kata gue ini, yang menghubungkan seseorang dengan mimpinya hanyalah keberanian mewujudkan mimpinya tersebut serta iman untuk percaya bahwa mimpinya itu akan terwujud.

Jadi kalo elo bukan anak orang kaya, dan elo ingin mimpi-mimpi elo terwujud, yang harus dilakukan hanyalah belajar lebih keras, berusaha lebih keras, dan percaya lebih keras. 

Seperti kata Aray di Sang Pemimpi, "Tanpa mimpi, orang-orang seperti kita ini akan mati." Jadi gue lebih memilih jadi bodoh ketimbang cepat-cepat mati. Fix!

2

EID MUBARAK : BEDA ITU BIASA

Posted by Santosa-is-me on 1:47 PM in
Wei, udah idul adha aja ya. Padahal rasanya baru kemaren Idul Fitri. Baju barunya aja masih terasa baru nih. Sungguh, waktu sekarang berasa cepet banget bagi gue. Berasa nggak bisa ditahan. Melesat bagai kilat. Bener kata orang, semua orang ingin menahan waktu, tapi nggak ada yang bisa. Benar-benar nggak ada.
Eid Mubarak, Selamat Lebaran....
Waktu menulis ini, lagi Idul Adha, beberapa keluarga berkunjung ke rumah, dan gue memilih tidur karena flu dan badan mendadak berasa nggak enak. Abis sholat ied tadi gue bawaannya pengen istirahat aja. Mungkin karena kecapean. Padahal gue masuk panitia qurban sebenarnya.

Satu hal yang agak mengganggu gue adalah lagi-lagi perbedaan hari pelaksanaan Idul Adha tahun ini. Sebagian ada yang udah ngerayainnya kemaren, sebagian yang lain termasuk gue baru merayakannya hari ini sesuai dengan keputusan Departemen Agama.

Satu masalah yang rada ribet adalah pelaksanaan puasa arafah yang idealnya dilaksanakan sehari sebelum idul adha atau bertepatan dengan orang-orang yang haji melakukan wuquf di Arafah. Maka itulah puasanya dinamain puasa arafah.

Nah, di arab sana, tempat pelaksanaan ibadah haji sana, udah memutuskan wuqufnya dilaksanakan pas hari jumat, alias kalo di sana Idul Adha nya itu jatuh di hari Sabtu alias nggak sejalan dengan ketetapan Departemen Agama.

Terus apakah Departemen Agama salah? Nggak juga. Perbedaan ini hanya soal metode aja. Dan metode yang berbeda ini udah di ok kan sama ulama, artinya bisa dipake. Terus apakah masuk akal di arab sana udah Idul Adha di sini belum? Kenapa nggak ngikut yang di arab aja, di sanakan pusatnya orang haji? Ya, nggak gitu juga. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa tiap daerah bisa beda-beda.
Lebaran ini, emak gue males bikin ketupat...
Cuma ya itu, buat yang ngikutin pemerintah, bakalan kebingungan buat puasanya. Di satu sisi 9 zulhijah itu jatohnya hari sabtu, di sisi lain orang wuqufnya hari jumat. Bukan apa-apa, soalnya hadist seputar pelaksanaan puasa arafah itu mengaitkannya dengan pelaksanaan wuquf. Dan kalo kita puasanya hari sabtu, orang wuquf udah pada selesai.

Terus gimana dong penyelesaiannya? Ya nggak ada. Jalani aja sih mana yang lebih diyakini dan menenangkan hati. Istilah ulama ini ikhtilaf. Artinya lagi diperdebatkan. Boleh aja kalo mau dipake. 

Intinya sih, yang penting semua ngerayain Idul Adha. Semuanya puasa arafah. Semuanya happy. Semuanya nggak rusuh. Semua nggak pada berantem. Dan yang penting semua ikutan berqurban, minimal jadi panitia qurban, atau paling nggak berqurban perasaan lah.. 

Eh tumben gue nulis bener gini... Kayaknya parah nih demam gue...

0

JADI BERITA

Posted by Santosa-is-me on 8:18 AM in
Pontianak, kota gue ini, bisa dibilang jarang bisa masuk ke televisi. Jarang banget. Maklum aja kota gue cuma sebuah kota kecil dipinggir barat pulau Borneo. Kagak ada artisnya. Kagakk ada cakep-cakepnya selain gue sendirian....

Kadang gue berasa nggak adil juga ngeliat televisi-televisi nasional itu. Masak iya yang diberitain itu Jakarta melulu. Padahal Jakarta itu nggak seberapanya luas Indonesia. Bahkan 1 persennya aja nggak nyampe. Tapi pemberitaan soal Jakarta selalu mendominasi media. Yah, memang sih Jakarta banyak artisnya, banyak cewek cakepnya dan juga ada Jokowi, tapi ya nggak boleh gitu juga dong kan? Ingat kata Abdur SUCI4 bilang bagaimana bisa kelebihan air di Jakarta (banjir) diliput sementara kekurangan air di NTT sana selalu luput. Dimana letak keadilannya?
"Mereka kelebihan air diliput, kami kekurangan air luput," - Abdur
Kalo difikir-fikir lagi, ada dampak buruk dari hal ini lho. Segala sesuatu jadi Jakarta sentris. Semua-semuanya yang datangnya dari Jakarta dianggap lebih gaul dan lebih keren. Padahal kan nggak gitu-gitu juga. Jakarta mah banyak juga nggak asyiknya. Orang yang norak juga banyak di sana.

Bayangkan, orang-orang daerah banyak yang sekarang ber-elo gue elo gue. Padahal betawi aja bukan, bahkan nginjakin kaki aja ke Jakarta belum pernah. Mereka menganggap ber-elo gue elo gue itu sesuatu yang gaul dan cool, padahal banyak yang bilang elo gue itu nggak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik. Gue aja nggak tau guru Bahasa Indonesia gue dulu bakal bilang apa kalo dia ngeliat blog gue ini (sumpah, gue cuma ber-elo gue gini di blog aja. Di dunia nyata sih nggak).

Tapi ya udah deh. Gue juga bukan lagi mau bahas soal Jakarta. Tapi gue pengen cerita soal kota gue Pontianak yang tadi masuk berita. Yup, tadi di salah satu stasiun televisi yang isinya berita doang, kota gue yang jarang masuk tipi dan berita ini muncul. Sialnya beritanya rada nggak enak: Pertikaian antar mahasiswa alias tawuran. Ya ampun, sekalinya masuk berita entah kenapa yang ada malah berita nggak enak begini.

Tapi rusuh antar mahasiswa begini bukan cuma sekali dua kali terjadi di salah satu kampus negeri di Pontianak itu. Udah beberapa kali, mulai dari gara-gara urusan pribadi rebutan cewek, kalah tanding bola, atau kayak yang terakhir kemaren ribut-ribut karena masuk batas wilayah fakultas laen. Yah, emang rada nggak lucu sih, tapi itulah kenyataannya. Ternyata masih banyak mahasiswa yang lebih mengutamakan otot dibanding otak. Mereka ini kalo ujian juga mungkin ngandelinnya otot juga, ketimbang otak.
Suasana setelah bentrok, foto dari Tribun Pontianak
Tapi syukurnya nggak ada korban jiwa. Ada yang luka dari pihak kepolisian yang mengamankan kejadian tersebut. Tapi kemudian situasi dapat dikendalikan. Gue nulis ini setelah tadi keliling-keliling memantau langsung tempat kejadian. Jalannya masih ditutup sama polisi. Dan nampak beberapa mahasiswa senior masih ditanya-tanya pak polisi. Sayang gue nggak punya kartu pers jadi nggak berani minta izin sama polisi buat masuk lebih dalam lagi, padahal kepengen banget.

Gue berharap ke depannya kejadian kayak gini nggak terulang lagi, walau sebenarnya gue rada pesimis sih. Selama mental mahasiswa nggak berubah. Dan cara paling mudah untuk ngeliatnya ya cukup dari gimana cara ospeknya dilaksanakan. Kalo modelnya masih sama-sama aja kayak dulu, ya mental mahasiswanya juga ya gitu-gitu aja.
Semoga cerita dari UNTAN isinya yang baik-baik saja...
Emang sih gue kepengen liat Pontianak lebih sering masuk berita. Tapi tentu saja berita yang positif dan yang bentuknya prestasi. Bukan yang jelek-jelek melulu. Makanya gue lebih doyan dengerin radio, soalnya di radio berita soal kota gue jauh lebih banyak. Dan nggak melulu semuanya yang jelek-jelek doang...

1

LIFE IS FULL OF IRONY

Posted by Santosa-is-me on 5:39 PM in
Seandainya memang ada yang namanya dunia paralel, gue selalu membayangkan, kehidupan gue di dunia yang lain itu seperti apa ya kira-kira? Dan gue cuma bisa membayangkan gue di dunia paralel itu kalo nggak seorang filsuf, pastilah orang gila....

Gue emang sering mikirkan sesuatu yang nggak penting. Itulah kenapa, gue selalu mikir di kehidupan yang berbeda mungkin gue adalah seorang filsuf macam-macam Aristoteles yang suka mikir yang dalam-dalam dan berat, atau mungkin orang gila yang mikirnya nggak jelas....

Salah satu hobi yang sering gue lakukan adalah duduk sendirian di kafe dan merenung sambil liat hujan turun dari langit (kalo lagi hujan) atau bintang yang kalah terang sama lampu di bumi (kalo lagi cerah). Apa yang gue renungkan? Macem-macem. Tentang diri gue, tentang Tuhan, tentang sekitar gue, sampe hal-hal yang kadang-kadang menurut gue sebenarnya nggak perlu dipikirin sama sekali.
Merenung, sambil nungguin hujan berenti,
Lebih karena kurang kerjaan sih...
Tapi gue senang melakukan ini. Bagi gue, ini adalah cara gue untuk berdamai dengan logika. Terkadang informasi yang datangnya dari luar sangat mempengaruhi gue. Kita adalah apa yang kita lihat dan dengar. Tapi apakah apa yang kita lihat dan kita dengar itu adalah sesuatu yang benar? Nggak juga. Karena itulah, proses merenung ala gue ini sering kali jadi tempat gue memadukan informasi, logika, dogma dan rasa. Sehingga gue akan dapat kesimpulan sendiri terkait satu permasalahan. Makanya nggak heran, gue sering kali punya persepsi yang agak beda dengan temen-temen gue dalam banyak hal.

Salah satu topik yang nggak ada habisnya untuk gue renungkan selain Tuhan tentu saja soal hidup. Bagi gue hidup itu ibarat kado yang nggak kita tau apa isinya. Kita mungkin punya macem-macem keinginan, tapi kita nggak pernah tahu hadiah macam apa yang bakal diberikan oleh orang lain. Kejutan. Bagian inilah yang paling menyenangkan dalam hidup, sekaligus juga kadang-kadang tragis.

Tapi tak ada yang lebih menyedihkan dari orang yang hidup dalam ironi. Gue seringkali menemukan banyak kasus seseorang yang kita anggap sempurna ternyata merasa hidupnya nggak seperti itu, bahkan depresi dan merasa kosong. Tadinya gue selalu menganggap uang, popularitas, dan kehormatan adalah segalanya. Tapi ternyata nggak juga, banyak orang yang justru merasa depresi ketika justru ia hidup dalam kesempurnaan di mata orang lain. Hidup emang penuh ironi kan?
Apa sih kebahagiaan itu?
Berita terbaru, adalah soal wafatnya Robin Williams. Waktu pertama dengar beritanya, gue nyaris nggak percaya. Tapi begitu gue serching-searching lagi infonya di internet, ternyata benaran dia wafat. Dan tragisnya, kabarnya om Robin Williams wafat karena bunuh diri. 

Ironis kan? Siapa sih yang nggak kenal Robin Williams. Gue adalah penggemar film-fimnya yang selalu mampu menghibur gue dari jaman gue masih bocah sampe sekarang gue udah gede. Tampangnya yang komikal menurut gue selalu mampu mengundang tawa. Dan sederet video stand up comedinya juga selalu bisa bikin gue ngakak dengan segala kelucuannya. Tapi orang yang selama ini berhasil menghibur gue dengan tawa ternyata hidupnya sendiri berada dalam ironi sehingga sampai merasa harus bunuh diri.

Mungkin benar kata Raditya Dika, hampir kebanyakan komedian itu justru hidup dalam ironi. Woddy Allen ngerasa hidupnya kosong, Jerry Lewis takut sama komitmen, Mitch Fatel mesum minta ampun, Owen Wilson udah pernah nyoba bunuh diri, dan parto pernah nembak di tempat umum (belum ada yang segila ini kan!?). Mereka mampu bikin orang tertawa, mereka juga populer, kaya, dan punya segala hal yang bahkan diimpikan orang-orang tapi kadang mereka justru kehilangan kebahagiaan untuk diri mereka sendiri.

Mungkin benar, kekayaan, ketenaran, dan kehormatan mungkin adalah hal yang penting dalam hidup, namun mereka adalah frasa yang berbeda dengan kebahagiaan. Mereka sesuatu yang penting memang, tapi akan percuma jika tak bermuara kepada kebahagiaan. So, mari berikan senyuman pada dunia kita yang penuh ironi.
goodbye, mr. Williams, thanks for all the laughs
Dan sampaikan salam perpisahan untuk Robin Williams yang sudah menghadirkan sedemikian banyak kebahagiaan untuk gue, anda dan kita semua.

2

BE A GREAT DAD, BRO!

Posted by Santosa-is-me on 5:19 PM in
Gue selalu menganggap pernikahan itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Sebuah tanggung jawab yang nggak main-main. Karena itu perlu lebih dari sekedar alasan "kepengen" untuk melakukannya.

Menurut keyakinan agama gue, ketika seorang pria menikahi seorang perempuan, maka tanggung jawab atas perempuan tersebut berpindah dari ayahnya ke sang suami. Karena itu, yang namanya pernikahan bukan sekedar urusan dunia, tapi juga akhirat. Suami bertanggung jawab atas istri. It's mean bahwa dosa istri akan selalu nyiprat juga kepada suami. Makanya nggak mudah lho jadi suami itu.... (please, correct me if i'm wrong)

Tapi pernikahan itu sesuatu yang indah lho. Hanya saja ia butuh kesiapan, waktu yang tepat dan tentu saja, pasangan yang tepat. And jangan lupa, yang namanya pernikahan bukan cuma pesta sehari dua hari. Pernikahan adalah jalan panjang yang penuh liku dan tantangan. Gue sendiri selalu berharap bisa kayak Emak dan Bapak gue, yang alhamdulillah bisa terus sama-sama hingga salah satunya dipanggil duluan oleh Tuhan.
hidup adalah petualangan...
Life is a never-ending process. Gue terkadang berfikir bahawa jaman gue masih bocah dulu itu enak banget ya. Bisa bebas ngapain aja, main-main, dan hidup tanpa beban. Tapi apakah hidup yang seperti itu yang gue inginkan? Dan setelah gue renungkan kembali, ternyata nggak. Setiap orang ingin selalu bersenang-senang. Namun di saat yang sama, belajar bertanggung jawab terhadap hal-hal baru dalam hidup adalah sebuah petualangan yang jauh lebih menyenangkan.

Gue sendiri sedang menapak proses hidup yang lebih jauh. Membangun karir dan menanti proses menuju petualangan-petualangan baru yang mungkin akan tiba kelak. Dan gue bersyukur banyak temen-temen gue yang sudah lebih duluan menikah. Mereka-mereka ini telah memasuki sebuah petualangan baru bernama kehidupan rumah tangga. Dan gue banyak belajar dari mereka.
Sebuah tanggung jawab, sekaligus petualangan...
Dan kini, beberapa teman gue juga sedang menapak proses petualangan yang lebih tinggi lagi, menjadi seorang ayah. Ketika kemaren, gue menjenguk salah seorang teman yang istrinya baru melahirkan anak mereka yang pertama, gue bisa merasain sendiri bagaimana menjadi seorang ayah itu sesuatu yang sangat sangat sangat luar biasa. Pemikiran bahwa ada seorang bocah yang datang dari darah daging kita sendiri, yang akan kita jumpai setiap hari, yang akan memanggil kita Ayah dengan lidah cadelnya, dan mencopy segala perilaku yang kita contohkan padanya, serta melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Kepikiran juga sih betapa repotnya kalau dia lagi rewel, capeknya begadang kalo dia kebangun tengah malam, atau kebandelannya yang mungkin bakal bikin kita jengkel setengah mati. Tapi gue yakin, semua itu nggak akan sanggup bikin rasa bahagia menjadi seorang ayah itu hilang. It's wonderful feeling, dan nggak ada yang bisa dibandingkan dengan itu....

So, gue cuma bilang gue bahagia atas predikat baru temen gue ini. Gue harap suatu saat nanti gue juga bisa menyusul menjalani petualangan-petualangan baru. Secepatnya. Dan gue berdoa yang terbaik buat kalian. Dan yang belum semoga aja disegerakan...
be a grat dad, my bro!
 Welcome to the world, baby girl. And be a great dad, my bro!

2

WHEN JOMBLO MET LEBARAN

Posted by Santosa-is-me on 8:19 PM in
Hai jomblo.... masih sendirian lebaran ini? Makanya, kurang doa sih kalian pas Ramadhan kemaren itu... 

Kalo ditanya gue gimana? Gue juga masih Single sih, tapi bukan jomblo. Beda lho. Jomblo itu gara-gara nggak laku, kalo single itu emang belum ketemu yang pas aja (ah... alasan doang aja sih ini).

Nah Jomblo yang ketemu dengan Lebaran, alias pas lebaran masih sendirian selalu jadi bahan bully sama temen-temen, keluarga bahkan orang tua. Ketemu temen-temen gue, yang ditanyain apa? "Udah nikah belom?" Ketemu keluarga dan sanak sodara yang ditanyain juga apa? "Kok sendirian aja?" Terakhir yang paling berat ketika sungkem sama orang tua, yang di doain apa? "Semoga kamu segera ngasih emak cucu."
Pas ramadhan tuh, doanya gini....!
Gue termasuk orang yang cuek banget dengan hal beginian. Gue bukan tipe orang yang jadi khawatir dan buru-buru kepengen nikah cuma gara-gara sebagian besar temen gue udah pada nikah bahkan udah punya anak. Bagi gue, pernikahan itu sesuatu yang sakral. Yang gue harap terjadi hanya sekali dalam seumur hidup (tentu kalau Tuhan mengizinkan ya...). Prinsip gue menikah itu adalah karena udah siap, udah pas waktu yang tepat dan sama pasangan yang tepat. Kalo tiga variabel itu belum terpenuhi, ngapain gue ngotot juga.

Cuma yang agak mengganggu di lebaran kali ini, proses bully terhadap ke-Single-an gue, menurut gue udah masuk ke level yang lumayan ekstrim. Terutama yang datangnya dari keluarga dan sanak sodara. Kalau dulu mungkin cuma dalam bentuk kalimat tanya "Kapan nikah?" yang biasanya dengan enteng gue ladenin dengan jawaban "Mei. Mey be yes, may be no." Nah, kalo sekarang, keluarga gue malah udah berubah jadi kayak agen biro jodoh. Ada yang nawarin mau dijodohkan dengan si A. Atau mau dikenalkan dengan si B. Bahkan ada yang pake ngeliatin fotonya segala. Dikira ini mau belanja online kali.... Yah, gitulah keluarga gue. Yang ngejalanin hidup siapa, yang heboh siapa...

Gue sih senang aja sebenarnya. Itu tanda bahwa keluarga besar gue sebenarnya sangat perhatian dengan gue. Yah cuma itu, gue nggak bisa membayangkan gimana nasib jomblo-jomblo lain yang juga mendapat perlakuan sama pas lebaran dan dia nggak secuek dan sesantai gue. Barangkali ntar muncul berita "Jomblo gantung diri karena frustasi ditanyain kapan nikah pas lebaran."

Pada akhirnya jomblo bukanlah aib. Karena itu, ngapain malu jadi jomblo sampe maksa-maksain nyari pasangan biar nggak dikatain jomblo. Mari lihat dari sudut pandang berbeda. Dengan jadi jomblo, terkadang seseorang punya keistimewaan yang nggak dimiliki oleh orang yang udah berpasangan. Seperti bebas mau kemana aja, dengan siapa aja, atau mau bikin apa aja. 

Mau abisin gaji buat nyoba bisnis baru, bebas-bebas aja. Mau jalan-jalan traveling hingga ke tengah hutan terus lari ke pantai, silahkan. Mau ngajak anak gadis tetangga buat nemenin pergi kondangan, nggak perlu takut ada yang cemburu. 

Lebaran, baik single atau udah punya pasangan, ya tetep lebaran aja namanya. Tuhan nggak mendiskriminasikan mereka yang jomblo kok. Santai aja... 

Nikmati ajalah masa-masa pencarian ini semaksimal mungkin. Ntar, kalo udah waktunya dan udah siap, Tuhan pasti ngirim jodoh yang tepat buat kita dengan jalan yang tak diduga-duga. Banyak kan ceritanya orang nyari pacar kemana-mana, taunya jodohnya sama dengan yang di belakang rumah?


Tak ada diskriminasi bagi jomblo...


2

RAMADHAN TERBAIK

Posted by Santosa-is-me on 11:33 PM in
Gue cuma mau mendeklarasikan satu hal, ramadhan kemaren, ramadhan yang baru lewat itu, adalah ramadhan terbaik menurut gue.

Mungkin ini bakal subjektif. Dan lagi-lagi ini juga bakal personal banget. Karena alasan-alasan gue untuk buat ngejadiin Ramadhan kemaren sebagai ramadhan terbaik mungkin nggak akan bisa diterima oleh orang lain selain gue.

Tapi pertama gue mesti ngakuin dosa dulu. Ramadhan gue yang kemaren ini ibadah gue nggak sebagus ramadhan-ramadhan sebelumnya. Asal tau aja, sekampret-kampretnya gue, tiap ramadhan gue selalu punya standar amal yang selalu mampu gue capai. 

Sayangnya, untuk ramadhan terakhir kemaren itu, gue nggak mencapai sebagian besar target gue. So, dari sisi ini sebenarnya ada penurunan dalam diri gue. Ramadhan gue sebelumnya jauh lebih bagus, in case kalo gue ngeliat semata-mata dari pencapaian amal gue.

Namun, kenapa gue ngasih title Ramadhan ini sebagai ramadhan terbaik gue? Jawabannya, karena gue ngerasa, entah kenapa, di Ramadhan kemaren ini gue berasa deket banget sama Allah. Itu yang gue rasain banget kemaren. Bahkan dalam ibadah-ibadah gue yang sebenarnya sedikit, gue mampu ngerasain benar kayak gue sedang berkomunikasi sama Allah.
Gue ngerasa Ramadhan ini gue lebih khusyuk....
Kalo gue analisa sedikit, mungkin ada penjelasan kenapa gue ngerasa seperti ini. Tidak lain dan tidak bukan, karena sebuah kesadaran baru yang gue dapet, bahwa gue nggak bisa apa-apa tanpa Allah. Dan kalau mau ngomongin ini cerita bakal mundur ke kejadian beberapa bulan sebelumnya. Ketika gue ketemu somebody who changed me a lot (cuma gue nggak bakal cerita di sini, nggak sekarang).

Gue percaya, ketika seseorang pada titik terbawah, ketika dia merasa rendah serendah-rendahnya, merasa bahwa ia berada pada titik "nggak tau mau kemana lagi," pada saat itu juga dia akan mendapat penyadaran bahwa manusia hanyalah satu entitas dalam semesta. Itulah yang akhirnya gue fahami di ramadhan ini, bahwa terkadang, usaha manusia sehebat apapun belum cukup tanpa bantuan Allah. Pemahaman bahwa sesungguhnya gue nggak bisa apa-apa tanpa Allah.

Gue menyadari sesungguhnya, sebelumnya entah disengaja atau tidak, gue sedikit merasa sombong. Ngerasa bahwa usaha gue adalah segalanya. Atau bahkan, entah gue sadar atau nggak, semenjak meninggalnya bapak gue, masih ada perasaan nggak menerima dalam diri gue. Perasaan gue seolah-olah nggak setuju sama takdir kenapa bapak gue dipanggil sebegini cepat? Menurut gue itu hal yang manusiawi ketika seseorang kehilangan orang yang dia cintainya.

Dan entah sadar atau nggak, itu menjadi bibit benalu yang menjalar. Selama tiga tahun ini, gue seperti ingin berontak sama Allah, banyak protes sama takdirnya, dan kadang ngelanggar perintah-perintah-Nya. Dan di tahun ini, Allah ngasih tamparan berharga ke gue. Seolah Dia kepengen bilang "Kamu tanpa Aku nggak akan bisa apa-apa." Sebuah tamparan yang syukurnya nggak harus menyakitkan, namun mampu bikin gue terjungkal sampai ke titik terbawah dalam hidup gue.

Syukurnya, tamparan itu benar-benar bikin gue berubah. Seolah hidup gue yang sebelumnya isinya protes aja sama Tuhan, kini lebih teratur dan punya tujuan. Ibarat kemaren itu gue lagi tersesat, sekarang Allah ngasih gue kompas biar gue bisa terus berjalan sampe tujuan. Nggak tahu gue bakal sampai tujuan yang gue inginkan atau nggak, tapi yang pasti, walau destinasi di sana bukan yang gue inginkan, pastinya itu adalah tempat yang sama indahnya dengan yang ingin gue tuju sekarang.

Yap, Ramadhan kemaren gue bertobat dari dosa besar yang lama ngendap di hati gue. Dosa berupa kesombongan gue sama Allah. Padahal kesombongan inilah dosa yang paling tua. Dosa yang bikin Iblis akhirnya diusir dari langit dan dikutuk sepanjang jaman.

Plus, gue juga masih berhutang sama bapak gue yang udah tenang di alam sana. Berhutang seorang anak yang soleh yang senantiasa ngedoain dia. Gue belum benar-benar jadi anak yang soleh sih, tapi mudah-mudahan hutang gue ini bisa segera gue lunasi.

Dan terakhir, gue berharap Ramadhan tahun depan gue bakal punya cerita lain. Cerita yang bisa bikin gue menempatkan Ramadhan tersebut sebagai ramadhan terbaik. Gue percaya, Allah sudah nyiapkan beragam cerita buat gue di setiap ramadhan semenjak hari ini. Semoga gue bisa memahami segala petunjuk-petunjuk-Nya.

Allahummahdina fiman hadait...
Ya Allah, berikanlah kami hidayah-Mu

Allahumma inna asaluka rahmatan min indika taqdii bihaa qalbii
Ya Allah, aku memohon rahmat-Mu yang dapat memberi petunjuk kepada hatiku

Happy Ied. Hopefully, you had a great ramadhan too

Eid Mubarak....

3

10 HARI MENJELANG LEBARAN

Posted by Santosa-is-me on 5:56 AM in
Lebaran makin dekat, tinggal kurang dari 10 hari lagi...

Nah, pada tau nggak kalo 10 hari terakhir sebelum lebaran ini adalah waktu-waktu puncaknya ibadah Ramadhan? Pernah dengarkan istilahnya Lailatul Qodar? Malam seribu bulan? Pernah dong, pernah kan, pernah ya?

Sayangnya, fenomena yang banyak gue liat adalah sebaliknya. Makin dekat akhir Ramadhan orang makin sibuk sendiri. Sibuk siap-siap nyari baju baru. Sibuk siap-siap bikin kue buat lebaran. Sibuk nyari tiket buat pergi mudik. Sibuk nyari gebetan baru biar pas lebaran jalannya nggak sendirian (cie... yang masih betah jomblo....:))))

Sialnya gue termasuk golongan terakhir itu.... (bukan yang betah jomblo, tapi maksud gue yang suka sibuk sendiri pas menjelang akhir Ramadhan.)

Makin menjelang masuk ke akhir Ramadhan jadwal gue berasa hectic banget (oke, hectic itu apaan sih?). Sebenarnya begitu masuk awal ramadhan aja udah berasa sih betapa waktu gue berasa sempit. Kerja, siaran, proyek-proyek nulis, update blog, dan tidur. Kalo liat dari sekian banyak kegiatan gue itu, ditambah bulan Ramadhan yang entah kenapa bikin waktu berasa sempit, gue seharusnya pandai-pandai memanajemen waktu.

Gue pernah ikut pelatihan manajemen waktu. Dan katanya, salah satu cara manajemen waktu itu adalah dengan memanajemen prioritas. Maka dari sekian banyak kegiatan gue itu gue harus mampu meletakkan yang paling penting dan mendesak di posisi prioritas tertinggi. Karena itulah gue meletakkan aktivitas itu pada posisi terpenting di manajemen prioritas gue: tidur! (Dari dulu udah gue bilang kan, manajemen hidup gue emang berantakan)

Waktu ibadah itu nggak boleh diganggu...

Nah, memasuki 10 hari menjelang lebaran, jadwal makin padet. Pasalnya ada beberapa temen gue di radio yang memang rutin ber-I'tikaf full selama 10 hari terakhir ramadhan. Dan, the show must go on. Nggak ada ceritanya radio libur gara-gara penyiarnya I'tikaf kan?

Makanya harus ada yang menggantikan jadwal-jadwal yang ditinggal temen-temen gue itu. Dan gue juga salah satu yang kebagian limpahan tambahan jadwal ini. Akibatnya jadwal harian gue semakin padat. Semakin hectic. Dan gue jadi kurang tidur. Juga kurang makan siang.

Yah, gue juga sebenarnya kepengen ikutan I'tikaf. Tapi mungkin niat gue belum sekuat temen-temen gue yang udah sanggup rutin nggak keluar-keluar mesjid selama hari-hari terakhir Ramadhan. Gue mah paling kadang-kadang ikutan cuma pas malam doang, terus abis shubuh pulang.

Tapi, mudah-mudahan aja sih, dengan gue bantu temen-temen gue yang kepengen I'tikaf, gue juga kecipratan pahalanya sedikit. Dan semoga aja suatu saat nanti gue bisa I'tikaf beneran nyontoh temen-temen gue. Amiin. Semoga gue jadi anak yang sholeh ya Allah.

Trus, gimana? Pada ikutan i'tikaf juga kan? Awas, jangan cuma ikutan asmara shubuhnya aja, tapi i'tikafnya juga dong.....

Stop! jangan cuma asmara subuh aja, pergi I'tikaf juga gih sana!

0

HARI YANG CERAH UNTUK PRESIDEN YANG BARU

Posted by Santosa-is-me on 3:05 PM in
Gue bukan orang yang jago-jago amat berpolitik. Cuma gue tau dikit-dikitlah soal apa itu demokrasi, apa itu pemilu, dan apa itu bangsa Indonesia..

Nah, bentar lagi, Indonesia bakal mendapat presiden baru. Karena presiden lama udah nggak mungkin nyalon lagi. Bukan, bukan, bukan karena pak SBY nggak punya duit buat pergi ke salon. Bukan juga karena pak SBY taku dianggap cowok metroseksual. Tapi semata-mata karena aturan perundang-undangan melarang seseorang jadi presiden lebih dari 2 periode.

Maafkan kami pak, kami emang nggak peka....
Yang pasti, sekarang jabatan presiden sedang direbutin sama dua kandidat yang lagi heboh-hebohnya bersaing. Adu ganteng, sampe saling klaim menang versi Quick Count. Gue juga masih heran, orang kok segitunya mau jadi presiden. Bukannya jadi presiden itu susah?

Oke, tapi yang namanya sesuatu yang baru, apalagi ini presiden, tentu ngebawa harapan baru. Nah gue sih nggak punya harapan banyak-banyak banget. Gue cuma mengharapkan satu hal. Gue berharap siapapun yang nanti jadi presiden, mampu mengembaikan harapan masyarakat (coba hitung berapa kata "harap" yang udah gue pakai dalam satu paragraf?).

Tau nggak apa sebenarnya yang bikin negara kita kacau dan nggak maju-maju. Karena masyarakat (kita-kita semua) apatis. Sebabnya karena kita kehilangan harapan bahwa segala kekacauan di negara kita ini bisa di perbaiki. Di otak kita (dan juga kadang-kadang muncul juga di otak gue), kadang muncul bahwak politik itu kotor. Ngapain pemilu, paling hasilnya juga gitu-gitu aja, yang dilahirkan paling hanya penjabat-pejabat yang nantinya korup juga. Terus akhirnya kita memilih diam, memilih berhenti berharap.

Apa yang menyebabkan ini semua? Tentu mulainya ya dari perilaku pejabat yang korup itu sehingga kita membenci mereka, dan tidak jarang kita juga jadi membenci semua politisi. Padahal masih ada loh yang serius, yang benar-benar berkerja melayani rakyat, meski harus gue akui juga, jumlahnya sangat minoritas sekali.

Nah, menurut gue presiden baru nanti, siapapun dia, entah bapak-bapak kekar mantan kopassus itu, atau om kurus yang sukses bisnis mebel, dua-duanya punya kesempatan besar. Kesempatan besar, untuk membuat masyarakat kembali percaya bahwa Indonesia bisa diperbaiki atau sebaliknya membuat masyarakat semakin apatis dan benci kepada pemerintah negaranya sendiri.

Bayangin, ada temen gue bilang dia nggak mentingin pemilu legislatif karena menurutnya anggota DPR itu kerjanya cuma makan uang rakyat. Gila, kalau semua orang kepikiran kayak gini, bayangkan apa yang terjadi terhadap parlemen kita? Mereka itu yang nyusun anggaran, bikin undang-undang, dan ngawasin pemerintah. Dan kita yang gaji mereka juga. Terus kalo mereka koplak, kita cuma bisa mengutuk?
Kapan kita nggak nganggep lagi ini sebagai sarang tikus?
Akibatnya mereka yang naik jadi anggota dewan yang terhormat, hanyalah orang-orang yang bahkan dari awalnya saja ketika kampanye udah banyak curangnya. Dan apa yang bisa kita harapkan dari bangsa yang punya pemimpin-pemimpin seperti itu? Yah, tapi itulah demokrasi. Jika kita tak perduli, maka orang-orang jahat itulah yang akan pegang kendali....


0

KETIKA INDONESIA JUARANYA

Posted by Santosa-is-me on 1:25 PM in
Gue rada capek nonton berita belakangan ini. Mau kemana-mana, selalu nggak jauh-jauh dari dua tema, kalo nggak lagi ngebahas Pilpres yang adu ganteng antara Prabowo dan Jokowi, ya pasti lagi ngebahas Piala Dunia.

Di bulan-bulan Juni ini, emang waktu-waktunya Piala Dunia 2014 di mulai. Sebagai olah raga terpopuler saat ini, wajar dong kalo banyak orang yang udah nungguin event empat tahun sekali. Entah itu buat nonton bareng, seru-seruan (padahal biasanya ngerti bola aja nggak), jualan kaos atau jadi bandar taruhan. 

gue pengen ke Ipanema...
Dan di Indonesia, penggila sepak bola udah nggak usah ditanyakan lagi. Gue bisa bayangkan, setiap warung kopi, kafe atau tempat-tempat nongkrong anak muda bakal di sulap jadi arena nonton bareng. Dan pas jam pertandingan bakal dipenuhi oleh orang-orang. Apalagi kalau pertandingannya Big Match.
Tapi Indonesia dimana sih di Piala Dunia?

Indonesia sih cuma nonton doang. Boro-boro ikut piala dunia, masuk penyisihannya aja di zona asia Indonesia hampir nggak pernah. Dan ini kayaknya juga belum berubah sampai beberapa piala dunia yang akan datang. Kecuali mendadak Indonesia kepilih jadi tuan rumah Piala dunia ngegantiin Qatar yang sekarang lagi bikin FIFA pening kepala. Tapi, yah, kalopun Indonesia bisa masuk piala dunia dengan cara ini, apa kerennya coba? Masa iya kita mau nonton Indonesia dibantai lagi sama Urguay dengan skor 1-7?
untung cuma pertandingan persahabatan....
Lupakan dulu Piala Dunia. Agak terpisah dari riuh kegilaan akan sepak bola, kemaren tim Bulu Tangkis kita gagal berbuat banyak di Piala Thomas dan Uber. Lagi-lagi kita puasa gelar. Gue aja udah lupa kapan terakhir kali Indonesia mampu ngerebut piala Thomas, apalagi Uber.

Badminton. Nih olah raga menurut gue sebenarnya Indonesia banget. Jauh lebih Indonesia ketimbang sepak bola. Ingat nggak dulu sampai ada lagunya, "Badminton, dimana...mana....!" (Kalo tahu, artinya harus sadar umur). Dan dari dulu banyak prestasi yang udah diukir oleh Indonesia di sini. Kalo ngomongin Indonesia di bulu tangkis, menurut gue sama kayak lagi ngomongin Brazil di sepak bola.

Bagi gue, nama-nama kayak Liem Swie King, Rudi Hartono, Haryanto Arbi, atau Taufik Hidayat, menurut gue itu sama kayak kita lagi ngomongin Pele, Diego Maradona, atau Cristiano Ronaldo. Hehehe di Badminton, negara kita adalah favorit jura lho. Biar kata udah lama nggak menang ng-Uber Thomas lagi, tapi negara lain selalu waspada dengan kekuatan kita.
mirip sama Ronaldo dan Rivaldo kalo di Sepakbola...
Yah, paling nggak, kalo di Sepak bola kita cuma bisa nonton doang, sambil berharap akan ada keajaiban pemain kita bisa sehebat Lionel Messi atau sekeren Christian Balle (eh kalo ini sih bukan pemain Real Madrid itu, ini mah Batman), di Badminton kita adalah juaranya, jawaranya, jagoannya. Mungkin cuma di Badminton orang bisa taruhan ngejagoin Indonesia dan menang.  

Tapi ingat loh, udah lama kita nggak juara lagi. Beberapa prestasi masih bisa kita raih. Tapi kita terus menurun. Terakhir tradisi emas olimpiade dari cabang Bulu Tangkis juga nggak ketangkap tangan. Selalu ada harapan, tapi tanpa dukungan kita, mana bisa...

Gue nggak mau ngehasut. Tapi ingat loh ya, gimanapun, di Badminton lah kita bisa berada di atas banyak negara lain. Di sepak bola, kita cuma pungguk merindukan bulan. Makanya camkan ini waktu nanti heboh-heboh nonton Piala Dunia, kalo nanti pas ada kejuaraan Badminton dan Indonesia berlaga, kita musti dukung Indonesia sama hebohnya seperti kita dukung negara antah berantah yang nggak ada sangkut pautnya dengan kita di Piala Dunia.

Rindu gue mau ngerasain kebanggaan gimana ketika Indonesia jadi juara. 
si bule masih nggak percaya cuma dapet perak...


0

SEBERAPA JAUH KITA TERPISAH?

Posted by Santosa-is-me on 8:17 PM in
Sebagai manusia gue sebenarnya cukup normal... Lebih tepatnya gue pernah normal. Dulu gue juga seperti anak-anak lainnya, makan nasi, main gundu, punya cita-cita dan juga pernah bela-belain nahan pipis gara-gara malu mau izin ke toilet pas zaman SD (seolah ke toilet itu adalah aib paling besar sejaman SD itu).

Yang pengen gue ceritain sekarang ini soal cita-cita. Seberapa jauh kita terpisah dari cita-cita kita?

Mari tracking di diri gue...

Jaman bocah cita-cita gue dua: Jadi satria baja hitam dan merit sama Maissy. Nah karena dua cita-cita ini rada absurd buat di wujudkan,  jadi gue nggak anggap cita-cita ini sebagai cita-cita yang serius. Yah maklum, namanya juga anak-anak...

Nah, mungkin cita-cita yang rada boleh dianggap serius itu adalah waktu di zaman SMA. Di sewaktu zaman putih abu-abu itu, cita-cita gue cukup spesifik. Jadi ketika zaman kelas 2 atau 3 SMA, gue pernah diminta mengungkapkan apa cita-cita gue, dan jawaban gue adalah: Gue kepengen jadi wartawan perang, dan mati pas perang. Tuh, mantep nggak cita-cita gue?

Sebenarnya sih, nggak gitu-gitu amat. Gue waktu itu sebenarnya lagi kepengaruh sama berita tv yang lagi heboh ngeberitain Ersa Siregar, wartawan RCTI yang disekap sama GAM dan akhirnya ditemukan tewas. Sejak itulah gue selalu kepengen jadi wartawan dan pengen mati waktu lagi ngeliput (iya, gue emang korban televisi).
Bapak inilah yang bikin gue kepengen mati sebagai wartawan
Tapi, ya gitu deh, ternyata gue nggak begitu serius mau jadi wartawan. Buktinya gue malah masuk ekonomi. Cuma paling nggak, gue akhirnya menemukan cita-cita sempurna gue. Gue pengen jadi penulis.

Gue dari SMA udah suka baca. Bahkan dari SD. Jaman SD gue suka minjam buku cerita di perpustakaan sekolah. Dan yang masih gue ingat, entah kenapa gue selalu minjam buku yang berhubungan dengan laut. Salah satunya yang masih gue inget itu buku "Badai  di Pulau Karang." Gue masih ingat ceritanya, kisah seorang anak penjaga mercu suar yang bela-belain nyalain mercu suar ditengah badai agar kapal-kapal yang lewat nggak karam. Asli, heroik banget. Makanya sampai sekarang, salah satu obsesi hidup gue adalah naik mercu suar. Bahkan gue pernah kepengen jadi penjaga mercu suar (iya, gue emang gampang banget kepengaruh).
Salah satu obsesi hidup gue, selain Meyda Shafira...
Jaman SMP gue masih suka baca juga. Bahkan kalo jaman SMP mau nyari gue waktu istirahat gampang, cari aja ke perpustakaan. Gue emang rada nerd, meski gue ogah pake kacamata, mencemari kegantengan gue. Berlanjut ke SMA, gue memulai sesuatu dari kebiasaan membaca gue: Menulis alias mengarang cerita.

Awalnya, gue cuma iseng nulis cerita kocak dari kejadian di sekitar gue, atau minimal sambungan film yang gue pleset-plesetin. Yang baca juga temen-temen sekelas gue. Pas SMA ini juga gue mulai suka puisi, selain karena lagi ababil dan penuh kegalauan masa remaja, juga karena gue lagi ngefans sama Rangga-nya AADC yang cool banget dan kemana-mana bawa "Aku"-nya Tsuman Jaya (makanya kalo ngajak gue nonton film pembunuhan, hati-hati! Gue gampang kepengaruh).

Sampai sekarang gue masih suka nulis. Tapi sejauh ini, semua gue lakukan sebagai bentuk pemuasan buat diri sendiri. Buat kesenangan pribadi. Sesekali gue kirim ke koran atau majalah kalau gue udah cukup pede dengan tulisan gue tersebut. Kalo nggak, lebih banyak gue nikmatin sendiri, pasang di note facebook, atau pasang di blog. 
Percaya nggak percaya, cerpen gue pernah nongol di majalah ini...
Tapi meski begitu, gue selalu menjadikan "Menjadi Penulis" sebagai cita-cita hidup gue bahkan jauh diatas cita-cita gue yang lain "Menikahi Meyda Safira." Karena itu, meski gue banyak kerjaan lain mulai dari jadi karyawan kantoran, penyiar radio, freelancer, pengusaha abal-abal, motivator dadakan, konsultan politik, akuntan setengah hati, dan lain-lain, tapi gue selalu percaya, hidup gue yang paling bahagia adalah ketika gue dibayar buat nulis semau gue, atau kerjaan gue sehari-hari cuma nulis aja dan minimal istri gue Meyda Safira (ngarep...).

Paling nggak, bagi gue, cita-cita kita nggak boleh dipadamkan... minimal kita masih memiliki mimpi untuk bisa mewujudkan cita-cita yang ingin kita raih, seberapapun jauhnya kita sudah terpisah dari mimpi kita itu saat ini... yah, mimpi aja yang gratis masa nggak berani? Padahal kalo soal yang gratis lainnya kita semangat banget....

2

NGGAK MILIH NGGAK KEREN

Posted by Santosa-is-me on 6:37 PM in
Bentar lagi pemilu nih bro... udah kepikir mau ngapain?

Kalo baru berencana mau jadi pengusaha spanduk dan baliho, gue rasa udah terlambat. Kalo juga baru berencana mau ngediriin kantor konsultan politik gue fikir juga udah terlambat banget. Tapi kalo rencananya mau nemuin jodoh di tahun ini, gue rasa sih masih sempet. Semua tergantung yang diatas dan seberapa kompetitif kita. Serta seberapa tinggi tingakat persaingan yang dihadapi terhadap jodoh yang kita targetkan. Jadi rumusnya E=M.C2 (mulai ngaco....)

Nah karena pemilu yang makin dekat ini, jadi kemaren KPU kota ngadain jalan santai dalam rangka buat mensosialisasi pemilu yang nanti bakal dilaksanakan pas 9 april kelak. Awalnya gue ngira acara ini bakal ada sesi coblos mencoblos atau contreng mencontreng (ngomong-ngomong pemilu ntar kita nyoblos atau nyontreng ya.....? Gue sih lebih suka nyoblos....).

Kecapean jalan meski tetap ganteng....
Yang gue lihat di acara itu, orang-orang lebih banyak ngomongin soal jangan golput. Bapak-bapak di atas panggung sibuk teriak-teriak "Jangan Golput.... jangan golput!" Gue agak kurang begitu memperhatikan sih. Soalnya gue lebih tertarik buat bersilaturahim dengan para pedagang makanan di acara itu. Bukan, gue bukan lagi blusukan kayak Jokowi, tapi gue lupa sarapan....

Ngomong-ngomong soal pemilu, gue sih termasuk warga negara yang baik dan rupawan. Karena itu gue juga orang yang menganjurkan untuk menggunakan hak pilih pas pemilu nanti. Bukan apa-apa, kapan lagi kita bisa melakukan sesuatu buat negara. Udah biasanya jalan berlubang kita sering nyumpah-nyumpahin pejabat-pejabat di sono. Sekalinya sekarang kita dikasi kesempatan buat ikut milih para pejabatnya, masa iya kita nggak mau ngegunainnya.
Kalau gue sih kerennya 24 karat....
Lagian apa sih ruginya ikut milih? Ada juga sih sebenarnya, bikin kotor jari. Ada satu lagi juga, buang-buang kertas (gue kan pencinta lingkungan). Tapi yah, di alam demokrasi kayak sekarang, inilah caranya buat kita ngeganti presiden, DPR, DPRD, atau DPD. Kalo kemaren pada sibuk ngata-ngatain presiden kita nggak tegas, DPR kerjaannya tidur, DPD nggak ada kerjaan, atau apapun juga, inilah dia jalan untuk mengubahnya: Milih yang terbaik dan juga ngajak orang milih yang baik-baik. Kalo kayaknya nggak ada yang baik, ya kita yang merasa baiklah yang harus maju kedepan. Berhenti jadi satrio piningit. Turun dari khayangan. Mandi di kali dan ninggalin selendang (eh kok jadi kisahnya Jaka Tarub ini?).

Oke intinya jangan lupa, pas 9 April nanti milih ya. Jangan golput. Karena kalo golput, artinya kita telah menyiakan hak pilih kita. Dan kalo kita menyia-nyiakan hak pilih kita, ingat kata-kata bang Iwan Fals:

Aku lelaki bukan untuk di pilih.... (Nggak nyambung...)

Dukung caleg wanita, karena lelaki bukan tuk dipilih....
Pokoknya jangan golput deh... Kayak kata KPU: Nggak milih, nggak keren....

Dan lagian lagi kenapa sih pake golput segala. Kan jadinya mubazir kita bikin Pemilu tiap lima tahun sekali? Kalo dari awal emang pada nggak mau milih semua, kan bisa kita usulin kayak yang mbah Sujiwo Tejo bilang ini, simpel....

Perempuan hamil nggak pernah salah......



0

KERIANG BANDONG

Posted by Santosa-is-me on 9:09 AM in
Di tempat gue, tiap udah lewat hari kelima belas Ramadhan, ada satu hal yang khass banget selain sotong pangkong (buat yang nggak tau, ini adalah cumi kering yang dibakar terus dipukul-pukul pake martil, sedap...). Yaitu Keriang bandong. 

Gue yakin, tradisi satu ini juga ada di daerah-daerah laen. Mungkin cuma namanya aja yang beda. Tapi yang pasti menyalakan penerangan di malam-malam terakhir ramadhan adalah salah satu tradisi yang kayaknya ada di hampir seluruh daerah Indonesia yang penduduknya muslim. 
 
15 hari terakhir Ramadhan, makin meriah....

Jaman gue kecil dulu, bapak gue juga sering memasang keriang bandong ini. Cuma karena kepengennya nggak mau ribet, bapak gue dan juga kebanyakan orang ngeganti keriang bandong ini dengan lampu kelap-kelip warna. Apalagi sekarang harga minyak tanah juga makin mahal. Belum lagi bikinnya itu lumayan ribet. Cuma gue heran, entah kenapa lampu kelap-kelip yang bapak gue beli selalu rusak selepas lebaran. Apakah lampu ini dibuat cuma sekali pakai? Gue nggak tau. 

Bagi gue tradisi satu ini lumayan asyik. Suasana menjelang ramadhan jadi makin meriah. Bahkan bukan cuma di rumah-rumah dan masjid, tidak jarang jalan-jalan juga dikasih keriang bandong dan lampu warna-warni. Ada yang dibuatkan gapura-gapura yang dikasi lampu kelap-kelap ini. Atau keriang bandong yang disusun-susun bertingkat. Pokoknya kreatif deh. 

Kalo kata temen gue, tujuan awal tradisi ini adalah biar anak-anak jadi rajin taraweh. Maklum jaman dulu kan lampu nggak banyak, jadi kadang-kadang anak-anak takut pergi dan pulang taraweh kemaleman. Biar nggak takut, dibuatlah keriang bandong ini banyak-banyak biar terang dan mereka nggak takut lagi. Tapi ada juga yang temen gue yang dodol bilang kalo keriang bandong itu buat ngundang malaikat datang kerumah. Gue sih nggak percaya, masa malaikat diundang pake yang begituan segala. 
Komplek-komplek jadi warna-warni
Rumah gue sendiri sih udah lumayan lama nggak masang baik Keriang bandong atau lampu kelap-kelip ini. Bukan apa-apa sih, cuma males aja mau nyari lampunya dan masanginnya. Maklum, gue kalau di ramadhan sibuk banget ibadah (iya, ini cuma alasan aja, ibadah gue emang nggak sehebat itu). Lagian sekarang lampu udah di mana-mana, jalan-jalan terang benderang, ntar keriang bandongnya malah minder. 

Tapi, sejak pindah ke rumah sekarang, tradisi masyarakat di dekat rumah gue ini masih memasang keriang bandong. Yang tradisional malah, pake botol, di kasih sumbu dan pake minyak tanah. Hebatnya mereka bikin gapura berbentuk mesjid dan keriang bandongnya disusun ngebentuk masjid. Keren banget. Tradisi ini sempet hilang beberapa tahun kemaren, cuma tahun ini diadain lagi. Sayangnya kalo dulu di sepanjang jalan juga ada dibuat, sekarang udah nggak ada. Mungkin emang minyak tanah harganya mahal kali. 
Tepat di depan gang gue...
Yang gue nggak bisa bayangin, ini yang nyalain pasti rajin banget. Tiap hari musti manjat dan nyalain keriang bandong-keriang bandongnya.

0

KERJAAN IMPIAN

Posted by Santosa-is-me on 11:12 PM in
Setiap orang pasti punya perkerjaan impian. Entah itu jadi direktur, perwira polisi, jendral, PNS, Koruptor atau apa aja deh. Alasannya juga macam-macam kenapa menjadikan jenis kerjaan itu sebagai kerjaan impian, mulai dari soal income (ini yang jadi pertimbangan kebanyakan temen gue), keamanan finansial terutama di masa tua (pensiunnya gede apa nggak), kenyamanan tempat kerja (punya ruangan sendiri apa nggak) sampai bahkan yang alasannya absurd banget hingga saking absurdnya gue nggak ngerti gimana menuliskannya di sini (lebay amat...) 
Kerjakan yang anda cintai, atau cintai yang anda kerjakan
Tapi yang juga cukup sering gue denger, ada banyak temen gue yang ngeluhin kerjaannya. Katanya nggak enak lah kerjaannya. Sibuk lah, kerna tugas dari bos terlalu banyak. Atau gajinya kecil, nggak sesuai dengan kerja yang dilakuin. Intinya, temen-temen gue itu nggak senang dengan kerjaan mereka (ya berhenti aja, gitu aja kok repot...) 

Beneran, ternyata banyak lho orang yang nggak kesampean punya kerjaan yang diimpi-impikannya. Bukan, bukan, bukan cuma sekedar kerjaan yang jabatannya tinggi, karirnya jelas, atau gajinya gede, tapi yang gue maksud adalah kerjaan emang dicintainya. Yang bisa dinikmati setiap harinya. Yang bikin kerjanya nggak berasa kerja, karena hal itu memang hal yang kita senangi. Yang kalo katu Nugie sebagai Lentera Jiwa. Atau bahasa kerennya Passion. 
Follow your passion...
Tapi, memang sih, buat meraih perkerjaan yang sesuai passion kita itu nggak mudah. Ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Dan yang pasti, ada banyak tantangan yang musti dihadapi. Hanya saja, percayalah, hal itu layak diperjuangkan. Dari pada seumur hidup kita cuma di isi dengan kerja, kerja dan kerja sambil terus mengutuk perkerjaan kita tersebut. 

Dan kalo gue sendiri sih, perkerjaan yang gue impikan itu adalah yang nggak ngeharusin kerja sesuai jam kerja kantoran. Atau kalau istilah bekennya nine to five. Kalo bisa malahan yang kerjanya cukup di rumah aja. Terus juga yang fleksibel soal jadwal kerja, bahkan kalau perlu gue sendiri yang menentukan jadwal kapan mulai dan selesai kerjanya. Jadi gue masih bisa ngelakuin banyak hal lainnya. Dan yang pasti, sesuatu yang gue suka dan gue nikmati untuk ngelakuinnya. Lentera jiwa gue. 
Nugie, ngajak nyari lentera jiwa...
Doain aja ya, semoga gue bisa dapat kerjaan yang kayak gitu. Intinya Viva la Vida, Viva Forever (iya, iya, ini emang cuma judul lagu), jangan bikin hidup kita membosankan yo...


Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.